Jurnal Referensi 2

Published Juni 7, 2015 by farahisna

Analisis Penggunaan Altman Z-score dan Springate
untuk Mengetahui Potensi Kebangkrutan pada
PT.Bakrie Telecom Tbk

Kokyung (hankokyung@rocketmail.com)
Siti Khairani (Siti.Khairani@mdp.ac.id)
Jurusan Akuntansi
STIE MDP
Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan penggunaan metode Altman Z-score dan Springate, serta mengetahui dan menganalisis perbedaan penggunaan metode Altman Z-score dan Springate dalam memprediksi potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk. Data yang digunakan adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Altman Z-score dan Springate mampu memprediksi potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk pada tahun 2009-2012, dimana metode Altman Z-score dan Springate mendeteksi bahwa telah terjadi penurunan kinerja yang signifikan pada PT.Bakrie Telecom Tbk. Terdapat perbedaan hasil prediksi kebangkrutan antara metode Altman Z-score dan Springate dikarenakan adanya perbedaan penggunaan rasio keuangan dan kriteria kebangkrutan antara Altman Z-score dan Springate.
Kata kunci : Metode Analisis Kebangkrutan, Altman Z-score, Springate.
abstract
The purpose of this study is to investigate and analyze the potential bankruptcy of the PT.Bakrie Telecom Tbk with the use of the method of Altman Z-score and Springate, as well as identify and analyze the different uses of the method and the Altman Z-score in predicting potential Springate bankruptcy on PT.Bakrie Telecom Tbk. The data used are secondary data. Data collection techniques used method of documentation. Analysis of the data used is qualitative. The results showed that the method of Altman Z-score and Springate able to predict the potential bankruptcy of the PT.Bakrie Telecom Tbk in 2009-2012, where the Altman Z-score method and Springate detect that there has been a significant decline in performance on PT.Bakrie Telecom Tbk. There are differences between the results predicted bankruptcy Altman Z-score method and Springate because of differences in the use of financial ratios and bankruptcy criteria between the Altman Z-score and Springate.
Key words: Method of Analysis of Bankruptcy, Altman Z-score, Springate

I PENDAHULUAN

Kemampuan suatu perusahaan untuk dapat bersaing sangat ditentukan oleh kinerja perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang tidak mampu bersaing untuk mempertahankan kinerjanya lambat laun akan tergusur dari lingkungan industrinya dan akan mengalami kebangkrutan. Agar kelangsungan hidup suatu perusahaan tetap terjaga, maka pihak manajemen harus dapat mempertahankan atau terlebih lagi memacu peningkatan kinerjanya.
PT.Bakrie Telecom Tbk merupakan perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA. Perusahaan ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo), yang didirikan pada bulan Agustus 1993, sebagai anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk yang bergerak dalam bidang telekomunikasi di DKI Jakarta. Namun, PT.Bakrie Telecom Tbk mengalami penurunan Laba yang sangat drastis pada akhir tahun 2012.

Dalam penelitian Willy (2011, h. 4), Model Altman (Z-Score) merupakan salah satu model analisis multivariate yang berfungsi untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat ketepatan dan keakuratan yang relatif dapat dipercaya. Model ini memiliki akurasi mencapai 95% jika menggunakan data 1 tahun sebelum kondisi kebangkrutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi kebangkrutan serta kinerja keuangan perusahaan berdasarkan hasil analisis diskriminan dengan menggunakan model Altman berdasarkan rasio lima variabel, yaitu:
1. Net Working Capital to Total Asset
2. Retained Earnings to Total Assets
3. Earning Before Interest and Tax to Total Asset
4. Market Value of Equity to Book Value of Debt
5. Sales to Total Asset.

Model Springate adalah model rasio yang menggunakan multiple discriminate analysis (MDA). Dalam metode MDA diperlukan lebih dari satu rasio keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk suatu model yang baik. Rasio yang digunakan, yaitu:
1. Working capital/total assets
2. Net profit before interest and taxes/total assets
3. Net profit before taxes/current liabilities
4. Sales/total assets
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ida dan Sandy Santoso (2011, h. 21), model ini memiliki akurasi 92,5% dalam tes yang dilakukan Springate.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti berkeinginan melakukan penelitian mengenai “Analisis Penggunaan Altman Z-score Dan Springate Untuk Mengetahui Potensi Kebangkrutan Pada PT.Bakrie Telecom Tbk”.

II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Jumingan (2009, h. 4), laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Transaksi dan peristiwa yang bersifat financial dicatat, digolongkan, dan diringkaskan dengan cara setepat-tepatnya dalam satuan uang, dan kemudian diadakan penafsiran untuk berbagai tujuan.

2.2 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Hanafi (2009, h. 5), analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.

2.3 Pengertian Neraca
Menurut Hanafi (2009, h. 50), menyatakan bahwa salah satu tujuan pelaporan keuangan biasanya dikatakan untuk membantu investor, kreditur, dan pihak-pihak lain menaksir besar, waktu (timing), serta tingkat ketidakpastian aliran kas suatu perusahaan atau entitas. Tujuan yg lebih spesifik adalah untuk memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan modal sendiri dari suatu entitas atau perusahaan. sumber daya ekonomis (aset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan hubungan antar item tersebut.

2.4 Pengertian Laporan Laba Rugi
Menurut Kasmir (2013, h. 45), menyatakan bahwa jenis laporan keuangan lainnya selain neraca adalah laporan laba rugi. Berbeda dengan neraca yang melaporkan informasi tentang kekayaan, utang, dan modal, laporan laba rugi memberikan informasi tentang hasil-hasil usaha yang diperoleh perusahaan. Laporan laba rugi juga berisi jumlah pendapatan yang diperoleh dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain, laporan laba rugi merupakarn laporan yang menunjukkan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu.

2.5 Pengertian Kebangkrutan
Istilah “pailit” dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris. Dalam bahasa Perancis, istilah “failite” artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran. Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar hutangnya disebut dengan Le falli. Di dalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah to fail, dan di dalam bahasa Latin dipergunakan istilah failire. Di negara-negara yang berbahasa Inggris, untuk pengertian pailit dan kepailitan dipergunakan istilah “bankrupt” dan “bankruptcy”.
Menurut Hanafi (2009, h. 262), kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum begitu parah. Tetapi kesulitan semacam itu apabila tidak ditangani bisa berkembang menjadi kesulitan tidak solvabel (hutang lebih besar dibanding aset). Kalau tidak solvabel, perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih apabila nilai likuidasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalau diteruskan. Reorganisasi dipilih kalau perusahaan masih menunjukan prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau diteruskan lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.

2.6 Rasio Altman Z-Score
Menurut Toto Prihadi (dalam Resti Amalia Ulfah, 2012), secara matematis persamaan Altman Z-Score tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
Dimana:
Z : Z-score
X1: Net Working Capital to Total Asset
X2: Retained Earnings to Total Asset
X3: Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets
X4: Market Value of Equity to Book Value of debt
X5: Sales to Total Assets

Rasio-rasio altman z-score yaitu:
1. Net Working Capital to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya. Rasio ini dihitung dengan membagi modal kerja bersih dengan total aktiva. Modal kerja bersih diperoleh dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut Sebaliknya, perusahaan dengan modal kerja bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajibannya.
2. Retained Earnings to Total Assets
Rasio ini mengukur keuntungan kumulatif terhadap umur perusahaan yang menunjukkan kekuatan pendapatan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham.

3. Earning Before Interest and Tax to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.

4. Market Value of Equity to Book Value of Debt
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dari nilai pasar modal sendiri (saham biasa). Nilai pasar ekuitas sendiri diperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkan kewajiban lancar dengan kewajiban jangka panjang.

5. Sales to Total Asset
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup dibandingkan investasi dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba.
Dengan kriteria penilaian apabila nilai S > 2,99 maka perusahaan tidak mempunyai masalah keuangan yang srius (tidak bangkrut), apabila 1,81 < Z < 2,99 maka perusahaan akan mengalami permasalahan keuangan jika tidak melakukan perbaikan yang berarti dalam manajemen maupun struktur keuangan (daerah rawan), dan apabila Z < 1,81 maka perusahaan mengalami masalah keuangan yang serius (bangkrut).

2.7 Rasio Springate
Menurut Adriana (2012), metode Springate ditemukan oleh Gordon L.V Springate pada tahun 1978. Springate menemukan terdapat 4 dari 19 rasio-rasio keuangan yang paling berkontribusi terhadap prediksi kebangkrutan perusahaan. Keempat rasio keuangan tersebut dikombinasikan dalam suatu formula yang bernama metode Springate. selanjutnya Springate juga menentukan batasan (standar) berupa nilai 0,862 untuk memprediksikan perusahaan,berpotensi bangkrut atau berpotensi sebagai perusahaan yang sehat (tidak bangkrut). Metode Springate dirumuskan dalam suatu formula sebagai berikut:
S = 1.03A + 3.07B + 0.66C + 0.4D
Keterangan:
A= modal kerja / total aset
B= laba sebelum bunga dan pajak / total aset
C= laba sebelum pajak / total liabilitas lancar
D= penjualan / total aset
Dengan kriteria penilaian apabila nilai S < 0,862 maka menunjukkan indikasi perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutan yang serius (bangkrut), apabila nilai 0,862 < S < 1,062 maka menunjukkan bahwa pihak manajemen harus hati-hati dalam mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (daerah rawan), apabila nilai S > 1,062 maka menunjukkan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat dan tidak mempunyai permasalahan dengan keuangan (tidak bangkrut).

2.8 Pengertian Modal Kerja
Menurut Kasmir (2013, h.250-251), Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek,seperti kas, bank, surat-surat berharga, piutang, sediaan, dan aktiva lancar lainnya. Pengertian modal kerja secara mendalam terkandung dalam konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Konsep kuantitatif
Modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep kualitatif
Konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut dengan modal kerja bersih atau (net working capital).
3. Konsep fungsional
Menekankan fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan.

III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah pendekatan penelitian komparatif yang membandingkan antara metode Altman Z-score atau metode Springate yang lebih tepat untuk memprediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk tahun 2009-2012. 3.2 Objek dan Subjek Penelitian Subjek penelitian yang digunakan adalah PT.Bakrie Telecom Tbk. Dengan objek laporan keuangan PT.Bakrie Telecom Tbk. 3.3 Jenis Data
Menurut cara memperolehnya, penelitian ini menggunakan jenis data Sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah laporan neraca dan laporan laba rugi PT.Bakrie Telecom Tbk yang diambil dari BEI tahun 2009-2012.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan mencatat dan menelusuri data perusahaan yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan neraca dan laba rugi pada tahun 2009-2012.
3.5 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif yang menghasilkan suatu pernyataan yang diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

IV HASIL PENELITIAN
4.1 Penerapan Metode Altman Z-score pada Perusahaan
Berikut merupakan hasil prediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan menggunakan metode Altman Z-score :
Tabel 4.1 Z-Score pada PT.Bakrie Telecom Tbk
Tahun 2009-2012
Periode
Z-score
Potensi Kebangkrutan
Tahun
Triwulan
2009
I
0,1804
Bangkrut
II
0,2710
Daerah rawan
III
0,3479
Tidak bangkrut
IV
0,3721
Tidak bangkrut
2010
I
0,0455
Bangkrut
II
0,2254
Daerah rawan
III
0,3411
Tidak bangkrut
IV
0,3706
Tidak bangkrut
2011
I
0,2042
Daerah rawan
II
0,1928
Daerah rawan
III
0,0689
Bangkrut
IV
0,0004
Bangkrut
2012
I
(0,2791)
Bangkrut
II
(0,3398)
Bangkrut
III
(0,3125)
Bangkrut
IV
(0,8017)
Bangkrut
Sumber : Penulis (Diolah, 2013)

konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Konsep kuantitatif
Modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep kualitatif
Konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut dengan modal kerja bersih atau (net working capital).
3. Konsep fungsional
Menekankan fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan.
III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah pendekatan penelitian komparatif yang membandingkan antara metode Altman Z-score atau metode Springate yang lebih tepat untuk memprediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk tahun 2009-2012. 3.2 Objek dan Subjek Penelitian Subjek penelitian yang digunakan adalah PT.Bakrie Telecom Tbk. Dengan objek laporan keuangan PT.Bakrie Telecom Tbk. 3.3 Jenis Data
Menurut cara memperolehnya, penelitian ini menggunakan jenis data Sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah laporan neraca dan laporan laba rugi PT.Bakrie Telecom Tbk yang diambil dari BEI tahun 2009-2012.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan mencatat dan menelusuri data perusahaan yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan neraca dan laba rugi pada tahun 2009-2012.
3.5 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif yang menghasilkan suatu pernyataan yang diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
IV HASIL PENELITIAN
4.1 Penerapan Metode Altman Z-score pada Perusahaan
Berikut merupakan hasil prediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan menggunakan metode Altman Z-score :
Tabel 4.1 Z-Score pada PT.Bakrie Telecom Tbk
Tahun 2009-2012
Periode
Z-score
Potensi Kebangkrutan
Tahun
Triwulan
2009
I
0,1804
Bangkrut
II
0,2710
Daerah rawan
III
0,3479
Tidak bangkrut
IV
0,3721
Tidak bangkrut
2010
I
0,0455
Bangkrut
II
0,2254
Daerah rawan
III
0,3411
Tidak bangkrut
IV
0,3706
Tidak bangkrut
2011
I
0,2042
Daerah rawan
II
0,1928
Daerah rawan
III
0,0689
Bangkrut
IV
0,0004
Bangkrut
2012
I
(0,2791)
Bangkrut
II
(0,3398)
Bangkrut
III
(0,3125)
Bangkrut
IV
(0,8017)
Bangkrut
Sumber : Penulis (Diolah, 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: