SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KOREA SELATAN

Published April 30, 2015 by farahisna

Berdasarkan pada sejarahnya Korea Selatan merupakan Negara miskin pada tahun-tahun awal berdirinya. Bentang alam Korea sendiri didominasi oleh pegunungan, belum adanya sumber daya dan modal.  Pada saat itu Negara ini hanya bergantung pada sektor pertanian. Kemudian sejak pemerintahan dipimpin oleh presiden Park Chung Hee yang diperoleh berdasarkan kudeta, pada saat itu ada harapan untuk memeperbaiki nasib perekonomian. Dasar-dasar dari pembangunan korea berasal dengan berdirinya perusahaan-perusahaan. Dibawah kepemimpinan Park Chung Hee, kepemimpinan bersifat dictator namun efisien, dan tidak adanya partai oposisi. Pada saat itu pula kemudian digalakkan kewirausahaan.

Korea Selatan memiliki ekonomi pasar dan menempat urutan kelima belas berdasarkan PDB. Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur. Korea Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia. Sementara, nilai impornya terbesar kesebelas. Kesuksesan ekonomi Korea Selatan dicapai pada akhir 1980-an ketika PDB berkembang dari rata – rata 8% per tahun (US$2,7 miliar) pada tahun 1962 menjadi US$230 miliar pada 1989. Jumlah ini kira – kira 20 kali lipat dari Korea Utara dan sama dengan ekonomi – ekonomi menengah di Uni Eropa. Kemajuan ekonomi ini dikenal dengan nama Keajaiban di Sungai Han.

Krisis Finansial Asia 1997 membuka kelemahan dari model pengembangan Korea Selatan, termasuk rasio utang/persamaan yang besar, pinjaman luar yang besar, dan sektor finansial yang tidak disiplin. Pertumbuhan jatuh sekitar 6,6% pada 1998, kemudian pulih dengan cepat ke 10,8% pada 1999 dan 9,2% pada 2000. Pertumbuhan kembali jatuh ke 3,3% pada 2001 karena perlambatan ekonomi dunia, ekspor yang menurun, dan persepsi bahwa pembaharuan finansial dan perusahaan yang dibutuhkan tidak bertumbuh. Dipimpin oleh industri dan konstruksi, ekonomi Korea Selatan mulai bangkit pada 2002 dengan pertumbuhan sebesar 5,8%. Jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan sebesar 15% pada tahun 2003. Indeks gini menunjukkan perbaikan, dari angka 35.8 menjadi 31.3 pada tahun 2007. Nilai investasinya sebesar 29.3% dari PDB dan menempati urutan ke dua puluh satu.

Pada 2005, di samping merupakan pemimpin dalam akses Internet kecepatan tinggi, semikonduktor memori, monitor layar-datar dan telepon genggam, Korea Selatan berada dalam peringkat pertama dalam pembuatan kapal, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam serat sintetis, kelima dalam otomotif dan keenam dalam baja. Negara ini juga menempati peringkat ke tiga puluh enam dalam hal tingkat pengangguran, kesembilan belas dalam Indeks Kemudahan Berbisnis[34] dan ketiga puluh satu dari 179 negara dalam Indeks Kebebasan Ekonomi berdasarkan data tahun 2010.

Ekspor bergerak dalam bidang semi konduktor, peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, computer, baja, kapal dan petrokimia dengan mitra ekspor utama RRT 21.5%, Amerika Serikat 10.9%, Jepang 6.6% dan Hong Kong 4.6%. Korea Selatan mengimpor plastik, elektronik dan peralatannya, minyak, baja dan bahan kimia organik dari RRT 17.7%, Jepang 14%, Amerika Serikat 8.9%, Arab Saudi 7.8%, Uni Emirat Arab 4.4% dan Australia 4.1%. jumlah tenaga kerja berada di peringkat kedua puluh lima dunia. Ekonomi Korea Selatan dipimpin oleh konglomerat besar yang dikenal dengan sebutan chaebol. Beberapa chaebol yang terbesar antara lain : Samsung Electronics, POSCO, Hyundai Motor Company, KB Financial Group, Korea Electric Company, Samsung Life Insurance, Shinhan Financial Group, LG Electronics, Hyundai dan LG Chem.

TAHAP PERTUMBUHAN DAN SISTEM KETERGANTUNGAN KOREA SELATAN

  1. Tahap Ketergantungan

Korea Selatan adalah sebuah Negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Disebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai suatu Negara hingga tahun 1948. Korea Selatan kini telah digolongkan menjadi Negara yang berpenghasilan menengah. Pperkembangan perekonomian Korea Selatan membuktikan kebenaran tahapan ppembangunan rostow yakni masyarakat tradisional, prakondisi tinggal landas (lepas landas), menuju kedewasaan dan era konsumsi tinggi (Budiman, 2000).

Dalam beberapa tahun terakhir pangsa investasi dalam pendapatan nasional Korea Selatan adalah yang tertinggi didunia yang merupakan bagian penting dari penjelasan mengenai pesatnya perkembangan ekonomi Korea Selatan. Bahkan Korea Selatan sama sekali tidak disebut dalam buku Stages of Economic Growth Rostow. pada tahun 1960 ketika buku tersebut diterbitkan kondisi Negara ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut “siap landas”.

Dari perkembanngan perekonomian yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa Negara ini telah melewati tahapan-tahapn akhir dari tepri Rostow. Menurut rumusan tahapan pembangunan Rostow, Korea Selatan kini telah berada pada tahap menejelang kematangan, bukan lagi sekedar pada kondisi tinggal landas, apalagi tekhnologi Korea Selatan saat ini sudah sangat diperhitungkan sehingga tidak lama lagi maka Negara ini akan sampai pada tahap Negara yang berekonomi matang atau berperekonomian matang.

Korea Selatan dengan pertumbuhan pembangunan yang sangat pesat ini dengan produk ekspor dan impornya yang sangat tinggi dan mampu bersaing dengan Negara-negara maju lainnya serta produk teknologi yang sangat diperhitungkan diseluruh dunia menegaskan bahwa Negara ini sudah berada pada tahap kematangan.

  1. Ketergantungan Korea Selatan

Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi Negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi Negara-negara lain, dimana Negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja (Salingkat, 2010). Model ketergantungan, Negara berkembang aktif dalam kegiatan hubungan ekonomi internasional pada akhirnya hanya akan menjadi tergantung dan terus menerus dirugikan (P.Todaro, 1999). Korea Selatan memang kian tergantung pada perekonomian internasional namun terdapat pperbedaan dimana Negara ini tidak dirugikan dengan keadaan tersebut.

Korea Selatan memang tergantung pada perekonomian internasional bahkan pada saat masih menjadi koloni Jepang sampai tahun 1945, setelah lepas dari sistem koloni Jepang Korea Selatan jatuh ketangan Amerika Serikat yang kemudian tetap mempertahankan kehadirannya hingga saat ini untuk alasan-alasan pertahanan dan membendung komunisme dari Korea Utara (C.Smith, 1999).

Ketergantungan Korea Selatan terhadap Amerika Serikat sama sekali tidak merugikan Korea Selatan bahkan menguntungkan, karena begitu banyak bantuan Amerika Serikat terhadap Korea Selatan sejak tahun 1950an dimulai pada saat itu Korea Selatan sangat terbantu dengan Amerika terutama dalam menjalin hubungan dagang dengan Negara-negara maju (Amerika Serikat dan Jepang).

Hal ini memberikan peluang besar bagi Korea Selatan dalam hal ekspor produk yang dihasilkan negaranya dengan mudah diterima Negara-negara yang sangat berpengaruh pada stabilitas perekonomian, dan hal inilah yang merupakan komponen terpenting dalam keberhasilan pembangunan Korea Selatan.

 

 

DINAMIKA SOSIAL, EKONOMI, DAN POLITIK KOREA SELATAN

Korea Selatan merupakan salah satu negara republik dengan ekonomi tersukses di Asia. Korea Selatan terletak di bagian selatan Semenanjung Korea yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, Laut Jepang, dan Laut Kuning. Bagian timur Korea Selatan merupakan pegunungan, sementara bagian barat dan selatan ada banyak pelabuhan di daratan dan lepas pantai. Korea Selatan memiliki penduduk yang homogeny, kecuali ribuan orang China yang tinggal disana dengan jumlah penduduk 49.039.986 jiwa. Berdasarkan survey tahun 2010, penduduk Korea Selatan menganut agama Kristen 31,6%, Buddha 24,2%, dan lainnya 44,2% (Central Intelligence Agency, t.t.). Korea tradisional mendapatkan pengaruh budaya dari China, termasuk karakter tulisan bahasa Korea dan mengadopsi neo-konfusianisme sebagai filosofi dalam pemerintahan (Asia Society, t.t.).

 

Selama lebih dari empat dekade terakhir, Korea Selatan muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan ekonomi industri dengan teknologi yang tinggi. Pada 1960an, GDP per kapita pada level yang sama dengan negara-negara di Afrika dan Asia. Namun dewasa ini Korea Selatan mampu memajukan ekonominya dan menjadi negara dengan perekonomian tersukses ke-12 di dunia. Kemajuan perekonomian Korea Selatan disebabkan oleh faktor sistem pemerintah dan bisnis, termasuk kredit langsung dan restriksi impor. Pemerintah hanya meningkatkan impor terhadap bahan mentah dan teknologi daripada barang-barang konsumsi, serta menggalakkan tabungan dan investasi daripada konsumsi. Saat terjadi krisis finansial yang parah di Asia pada tahun 1997-1998, Korea Selatan mengadopsi beberapa bentuk reformasi ekonomi, termasuk menjadi lebih terbuka terhadap investasi asing dan impor dari negara lain. Setelah itu Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 4% per tahun antara tahun 2004 hingga 2007, bahkan pada 2010 Korea Selatan berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 10%. Namun seiring dengan pertubuhan ekonomi, ada permasalahan yang tengah dihadapi Korea Selatan, seperti pertumbuhan penduduk yang cepat, pasar tenaga kerja yang tidak fleksibel, serta ketergantungan terhadap ekspor yang notabene menyumbang sekitar setengah dari total GDP (Central Intelligence Agency, t.t.). Selain faktor kebijakan dan strategi pemerintah, transformasi  yang terjadi di Korea Selatan juga dipengaruhi oleh karakteristik, seperti implementasi model ekonomi berbasis perdagangan bebas, perkembangan struktur ekonomi berbasis jaringan bisnis (chaebols), dan cepatnya penciptaan kapasitas teknologi. Selain itu, adanya pengaruh budaya baik di pemerintah maupun masyarakat yang memiliki peran penting dalam kemajuan Korea Selatan, yakni Konfusianisme.

 

Selama berabad-abad, Konfusianisme telah menjadi pedoman rakyat Korea Selatan yang penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Konsep Konfusianisme adalah harmoni sosial dan ajaran-ajaran moral diserap dalam kehidupan rakyat Korea Selatan dan memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak budaya Korea seperti yang terlihat saat ini. Konfusianisme telah mengakar dalam tingkah laku, kebiasaan, hingga pola pikir rakyat Korea Selatan. Ide-ide fundamental tentang moralitas dan hubungan manusia seringkali diasosiasikan dengan konsep konfusianisme. Di Korea, orang-orang tua sangat dihargai, bahkan perbedaan usia diakui. Meskipun memiliki catatan buruk tentang korupsi dan mismanajemen yang sangat parah dalam pemerintah Korea Selatan selama beberapa dekade, namun Korea Selatan mampu memperbaiki dan bangkit kembali (Asia-Pasific Connection, 2008).

 

Konfusianisme menjadi faktor penting dalam kemajuan perekonomian di Korea Selatan. Di Korea Selatan tejadi asimilasi ajaran Protestanisme dan nilai kapitalisme dengan budaya Konfusianisme yang tegas dan berorientasi pada tujuan, dimana dalam proses asimilasi Konfusianisme sebagai faktor positif yang mengajarkan hierarki, masyarakat harmonis dan berorientasi komunitas. Masuknya Protestanisme di Korea Selatan pada 1884 telah memodifikasi nilai-nilai Konfusianisme tradisional dengan pendidikan modern, dan visi masyarakat Barat dan nilai-nilai Protestan. Tu Wei-ming (1984, dalam Ramirez 2010) mengatakan bahwa modifikasi ini dilakukan untuk membentuk neo-konfusianisme yang berotientasi pada tujuan, gagasan hierarki yang menempatkan para intelektual dan pegawai publik pada puncak hierarki, kemudian di bawahnya ada petani, artisan, dan terakhir pedagang.

 

Selain itu, Weber (1989, dalam Ramirez 2010) mengatakan bahwa prinsip-prinsip Protestan mengajarkan individualisme, bekerja untuk mengejar kekayaan, standar moral, dan kewajiban religius untuk tiap-tiap individu. Kontras dengan Protestanisme, prinsip-prinsip Konfusianisme menawarkan panduan moral untuk kebaikan masyarakat, agar bisa mencapai masyarakat yang harmonis secara moral, kedisiplinan, edukasi, ikatan keluarga, dan harmoni sosial yang kuat. Pembauran inilah yang menciptakan neo-konfusianisme yang membawa perkembangan dan kemajuan pesat di Korea Selatan dan membuat Korea Selatan menjadi sangat Konfusian daripada negara-negara Asia Timur lainnya. Misalnya yang terjadi di Jepang, dimana dalam etos kerja dan sistem pekerjaan di Jepang sama sekali tidak terpengaruh oleh nilai Konfusianisme, melainkan sistem pekerjaan lah yang menggambarkan Konfusianisme. Kooperasi, konsensus, dan solidaritas sosial juga menjadikan dinamika organisasi di perusahaan Korea Selatan berbeda dengan Jepang, dimana kolektivisme di Jepang tidak sekuat di Korea Selatan, hal ini pula yang membedakan dengan individualisme dan kompetisi di Barat. Selain itu, menurut Kim (1997, dalam Ramirez 2010), pembelajaran Konfusian di Korea Selatan jauh lebih merata daripada di negara-negara Asia Timur lainnya.

 

Konfusianisme memiliki enam arts of governance: pembetulan, Chung Yung atau Doctrine of the Mean, memerintah dengan kebajikan, instruksi publik, mengembangkan kekayaan nasional, dan pertumbangan opini publik. Pembetulan menjadi panduan moral bagi masyarakat yang berisi norma-norma yang menentukan benar dan salah, atau yang disebut dengan standar. Standar inilah yang digunakan untuk mencapai tujuan kolektif sebagai cara untuk kontrol sosial (Hsu 1975, dalam Ramirez 2010). Berdasarkan ajaran Konfusianisme, faktor yang paling penting dalam konsolidasi negara adalah kesatuan politik untuk memproteksi negara dari ancaman eksternal dan untuk memerintah melalui cara yang efisien dan efektif. Konfusianisme menganggap negara terkonsolidasi ketika negara mencapai sentralisasi otoritas politik yang dipahami sebagai “kekuatan negara” (Hsu 1975, dalam Ramirez 2010). Sehingga jelas bahwa Korea Selatan sebagai contoh dimana kantor pusat pemerintahan mengawasi semua kantor pemerintahan yang berurusan dengan masalah-masalah nasional. Konfusianisme Korea Selatan juga tidak mengenal pemisahan kekuasaan yang menjadi hal esensial dari nilai kapitalis Barat, melainkan struktur pemerintah Konfusian berdasarkan hierarkhi dimana fungsionaris ditempatkan pada otoritas yang lebih tinggi. Bangsa konfusian juga mendukung pemerintahan rakyat untuk rakyat, namun tidak oleh rakyat. Konfusianisme mengenal adanya pola-pola hirarkis dan birokratis, dimana pemerintah lebih kuat daripada masyarakat sipil. Hal inilah yang membedakan Konfusianisme dengan kapitalisme. Bagaimanapun Korea Selatan mengasimilasikan nilai kapitalisme yang telihat dari pola perekonomiannya yang berbasis perdagangan bebas.

 

Selain maju dalam bidang ekonomi, Korea Selatan juga fokus memajukan negara sebagai negara demokrasi. Selama era Park, terjadi transisi demokratis pada 1987 karena keseimbangan kekuatan antara pemegang bisnis dan politisi membuat korupsi terjadi dan tidak terkendali, sehingga transisi demokrasi mengubah hubungan dasar bisnis dan negara, yang sebelumnya bisnis memiliki pengaruh yang lebih besar dalam keputusan kebijakan. Terlalu fokus pada pilihan kebijakan individual, seperti industrialisasi berorientasi ekspor atau peraturan institusional yang spesifik (birokrasi) sebagai isu yang dipisahkan juga tidak relevan. Baik institusi maupun kebijakan adalah variabel penghalang, dimana hubungan pemerintah-bisnis mempengaruhi berbagai isu. Institusi tidak hanya sekedar organisasi negara, melainkan ditempatkan sebagai pengambil kebijakan perdagangan dan finansial (Kang 2002, 178).

 

Periode transisi Korea Selatan juga tidak terlepaskan dari terbunuhnya Park yang memerintah negara selama 18 tahun. Peristiwa itu seringkali disebut dengan “Seoul Spring” yang membawa pada keterbukaan politik dan atmosfer politik yang lebih bebas dan pemerintah yang lebih mewakili rakyat (Seth 2011, 412). Kemudian pada tahun 1987 ada pemilihan presiden secara bebas, dimana persaingan para calon presiden, Kim Young Sam dan Kim Dae Jung, membagi oposisi, yakni dari militer dan pekerja konservatif serta rakyat kelas menengah. Namun, peristiwa ini menjadi turning point dalam sejarah Korea Selatan. Terjadi pergeseran politik dari rezim otoritarian menjadi sistem politik yang lebih terbuka. Pengalaman tahun 1960-1961 ketika demokrasi diasosiasikan dengan kekacauan sosial telah hilang, kemudian muncul keinginan untuk mengakhiri rezim yang didominasi oleh militer selama hampir tiga dekade (Seth 2011, 442).

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi demokratisasi di Korea Selatan. Pertama, adanya perubahan sosial dan kultural masyarakat Korea Selatan, termasuk evolusi demokrasi yakni penyebaran idealisme kesetaraan dan meningkatnya mobilitas sosial. Kedua, kontribusi dan pengaruh Amerika Serikat. Budaya Amerika mulai memasuki Korea Selatan, seperti budaya pop – film, musik, dan fashion – termasuk dalam bidang pendidikan dan ide-ide tentang sosial dan politik. Buku-buku cetak Korea mengajarkan tentang prinsip-prinsip tentang hak asasi dan demokrasi yang menempatkan Amerika Serikat sebagai teladan. Ribuan pelajar Korea yang belajar di Amerika Serikat juga kembali dengan impresi terhadap nilai-nilai dan budaya Amerika. Amerika Serikat juga mensponsori program-program pelatihan untuk birokrat, membiayai publikasi seperti Sasanggye, jurnal yang berpengaruh terhadap pemikiran sosial dan politik di Korea Selatan. Amerika Serikat juga memiliki peranan besar dalam pengembangan pendidikan di Korea Selatan dengan memberi pelatihan kepada Kementrian Pendidikan, memasukkan tentang nilai-nilai politik Amerika Serikat dalam program kurikulum dan pelatihan guru. Ketiga, berkembangnya agama Kristen di Korea Selatan yang mengajarkan pluralisme sosial dan menyediakan basis institusi untuk oposisi politik. Misi Kristen merupakan hal penting dalam penyebaran ide-ide baru dan orang-orang Kristen aktif dalam gerakan nasionalis pra-1945.

 

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa kemajuan Korea Selatan tidak terlepas dari nilai-nilai Konfusianisme yang dianutnya. Korea Selatan juga menjadi negara yang paling konfusian daripada negara-negara Asia timur lainnya karena adanya asimilasi ajaran Protestan dan nilai-nilai kapitalisme yang membawa kemajuan Korea Selatan. Selain kemajuan ekonomi, Korea Selatan juga sukses dalam memajukan demokrasi di negaranya. Pada tahun 1987 terjadi “Seoul Spring”, yakni transisi demokrasi dari pemerintahan yang otoriter dan didominasi militer menjadi pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis. Hal ini membuktikan bahwa perbaikan dan progres yang signifikan Korea Selatan di bidang ekonomi, sosial, dan politik membawa pada kemajuan Korea Selatan seperti yang terlihat dewasa ini.

 

Referensi :

http://feb.ub.ac.id/kuliah-tamu-sejarah-perkembangan-perekonomian-korea-selatan.html

http://www.wikipedia.com

http://sejarahakademika.blogspot.com/2013/10/tahap-pertumbuhan-dan-sistem.html

http://andraina_af-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-103087-East%20Asian%20Studies-Dinamika%20Korea%20Selatan:%20Ekonomi,%20Sosial,%20dan%20Politik.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: