Review Jurnal HAKI 8

Published Mei 5, 2013 by farahisna

Pemeliharaan dan Pelestarian Pengetahuan Tradisional

dan Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia:

Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

dan non-Hak Kekayaan Intelektual

 

Afifah Kusumadara

Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 169 Malang – 65145

akusumad@yahoo.com

 

 

 

Persyaratan Bagi Hasil

           

Terdapat pandangan di antara para penyusun RUU PTEBT bahwa PTEBT

Indonesia harus dilindungi dari pemanfaatan tanpa izin yang dilakukan oleh orang

asing saja. RUU PTEBT mensyaratkan hanya orang asing, badan hukum asing dan badan hukum Indonesia penanaman modal asing saja yang wajib memperoleh izin

akses pemanfaatan PTEBT dari pemerintah. Setelah memperoleh izin akses

pemanfaatan, mereka disyaratkan untuk membuat Perjanjian Pemanfaatan dengan

kustodian PTEBT.

Pasal 12 RUU PTEBT menyebutkan setelah mendapat izin akses pemanfaatan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (10), Pemohon wajib melakukan

perjanjian pemanfaatan dengan Kustodian Pengetahuan Tradisional dan/atau

Ekspresi Budaya Tradisional dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak izin

akses pemanfaatan diberikan. “Pemohon” dalam Pasal 12 tersebut didefinisikan

sebagai orang asing atau badan hukum asing atau badan hukum Indonesia

penanaman modal asing (Pasal 1 nomor 7 RUU PTEBT).

Oleh karena itu, untuk melestarikan PTEBT Indonesia dan untuk menghargai

masyarakat adat dan lokal, RUU PTEBT hendaknya tidak hanya mewajibkan subjek

hukum asing saja, tetapi juga mewajibkan subjek hukum Indonesia untuk

melaksanakan benefit sharing pemanfaatan PTEBT mereka dengan kustodian PTEBT

yang bersangkutan. Benefit sharing adalah etika yang sangat dihargai oleh masyarakat

tradisional, tidak peduli siapa yang memanfaatkan PTEBT mereka. Keberlanjutan

PTEBT Indonesia tergantung pada etika benefit sharing ini. Benefit sharing dari

pemanfaatan PTEBT dapat membantu terciptanya PTEBT baru yang lebih baik dan

bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

Sanksi Hukum bagi Kelompok Radikal yang Menyerang Produk PTEBT dan

Masyarakat yang Mempraktekan PTEBT

 

Pemerintah tidak boleh mentoleransi dan harus menghentikan upaya apapun

yang dilakukan oleh kelompok agama yang fanatik dan radikal yang secara sepihak

melarang masyarakat adat dan lokal untuk mempraktekkan PTEBT mereka atas

nama agama tertentu. Sejak jatuhnya pemerintahan Soeharto pada 1988, telah terjadi

beberapa penyerangan dan ancaman yang dilontarkan oleh kelompok Islam radikal

terhadap beberapa karya PTEBT, seperti patung tradisional, dan terhadap komunitas

yang menjalankan tradisi mereka yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Pemerintah sekarang yang memang lebih lemah secara politik daripada

pemerintahan militer Soeharto, sering tidak mengambil tindakan hukum apapun

terhadap kelompok Islam radikal yang menyerang dan mengancam komunitas yang

melaksanakan PTEBT mereka, untuk menjaga hubungan politis dengan beberapa

partai politik Islam.

Sebagai contoh, telah beberapa kali kelompok Islam radikal di Solo, Jawa Tengah,

menyerang dan menghentikan pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan di

beberapa desa di Solo, karena kelompok tersebut menganggap wayang bertentangan

dengan ajaran Islam. Wayang adalah salah satu PTEBT Indonesia yang sangat terkenal

dan telah menerima pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (Intangible

Cultural Heritage of Humanity) pada 2008. Masyarakat lokal dan pemain wayang harus

bernegosiasi dengan kelompok radikal tersebut untuk melanjutkan pertunjukan wayang

kulit mereka. Tidak diberitakan adanya aparat penegak hukum yang menindak

kelompok radikal yang menyerang pagelaran wayang kulit tersebut. Masyarakat lokal

dan seniman tradisional harus mempertahankan PTEBT mereka dari serangan kelompok

radikal tanpa perlindungan pemerintah atau aparat penegak hukum.

Upaya pemerintah untuk melindungi PTEBT Indonesia seharusnya tidak hanya

dengan menyusun undang-undang, tetapi juga melindungi hak dari masyarakat

lokal dan tradisional untuk menjalankan PTEBTnya, sehingga PTEBT Indonesia

tidak hancur oleh radikalisme.

 

Penutup

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan

antara pemerintah dan masyarakat atas perlindungan PTEBT Indonesia. Pandangan

pemerintah adalah untuk melindungi HKI dan nilai komersial PTEBT. Sementara

itu, pandangan masyarakat lokal dan tradisional adalah untuk memelihara dan

melestarikan PTEBT yang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia. Masyarakat

Indonesia jarang memandang PTEBT dari sudut HKI dan nilai komersialnya, tetapi

mereka lebih memandangnya dari nilai spiritualnya, filosofi hidup, identitas budaya

dan ikatan sosial yang menyatukan Indonesia.

Oleh karena itu, RUU PTEBT dapat gagal untuk memelihara dan melestarikan

PTEBT karena masalah-masalah berikut: 1)RUU tersebut hanya memfokuskan

perlindungannya pada HKI dan nilai komersial dari PTEBT; 2)Tidak adanya

dokumentasi atas PTEBT Indonesia sehingga tidak jelas apa yang akan dilindungi

oleh RUU PTEBT; 3)Belum pahamnya aparat hukum dan pengadilan Indonesia

atas konsep perlindungan PTEBT; 4)Diabaikannya eksistensi dan hak-hak

masyarakat adat padahal merekalah yang memelihara dan mengembangkan PTEBT

Indonesia; 5)Tidak diakomodasinya hukum adat dalam RUU PTEBT, padahal

hukum adat masih dipakai masyarakat dalam pengelolaan PTEBT; 6)Pengguna

Indonesia dikecualikan dari syarat Benefit Sharing padahal merekalah pengguna

terbanyak PTEBT Indonesia; 7)Tidak adanya sanksi hukum bagi kelompok radikal.

 

 

 

Referensi  :

http://law.uii.ac.id/images/stories/Jurnal%20Hukum/9%20Afifah%20Kusumadar.pdf

 

 

Nama       : Farah Isna Meylinar

Kelas         : 2EB08

NPM          : 22211695

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: