Sastra SMS

Published April 18, 2013 by farahisna

Sastra SMS

Tidak dapat dipungkiri lagi kalau dewasa ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat pesat dan sudah sangat maju. Di era yang serba digital ini jarak dan waktu bukanlah suatu hambatan yang besar. Dalam hitungan detik, kita dapat memperolah informasi dari seluruh dunia.

Jika kita sedikit mengingat 10 atau 15 tahun yang lalu tentu kita pernah mendengar yang Telegram. Sebuah teknologi yang memungkinkan kita untuk mengirimkan surat ke tempat yang dekat ataupun jauh dalam waktu yang relative singkat.

Hitungan tarif yang digunakan telegram yaitu dengan menghitung jumlah huruf atau angka yang ditulis lalu dikalikan terif per angka atau per huruf. Tentunya sangat mahal jika kita mengirim dengan surat dengan tulisan panjang lebar. Maka untuk menanggulangi hal ini kita perlu menyingkat kalimat dalam surat dan mengefektifkan penggunaan bahasa yang terkadang tidak mengindahkan atau tidak sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan).

Ketika kita kembali ke tahun 2007, maka kita kembali dihadapkan dengan permasalahan bahasa yang hamper sama dengan telegram. Tentunya kita semua sudah mengetahui apa yang disebut SMS (short message service). Dengan sms, kita dapat mengirim berita atau informasi ke tempat yang dekat atau jauh dengan waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan detik. Maksimal huruf atau angka dengan spasi per Rp 350 sekali kirim adalah 160 karakter. Padahal dari segi biaya dibandingkan dengan telegram tentu sudah lebih murah.

Permasalahan dimulai dari sini. Karena ada batasan dalam penulisan karakter maka remaja di era ini cendering menggunakan bahasa dengan disingkat atau yang disebut sastra sms. Hal ini tentunya sangat menghawatirkan dan berakibat sangat buruk bagi masa depan Bahasa Indonesia.

Contoh yang paling kita sering alami saat penulisan sms adalah pengggunaan huruf “g” untuk menyatakan “nggak” padahal kata “nggak” saja sudah tidak sesuai dengan EYD yang seharusnya ditulis tidak minimal disingkat “tdk”. Atau contoh lain untuk menyatakan “sedang apa” atau “lagi apa” adalah “lags ap” atau contoh lain “kemarin” ditulis “kmrn”. Yang lebih menyedihkan saat kita ingin menyatakan “saya” para remaja di era ini menuliskan “gw” atau hanya “w”. Tentunya perkembangan sastra sms ini sangat menyedihkan dan sangat berbahaya bagi masa depan Bahasa Indonesia.

Perkembangan sastra sms di era 2007 ini sangat menyedihkan. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengilangkan pengaruhnya pada diri remaja di era ini atau minimal kita dapat menekan perkembangannya selambat mungkin.

Jika saya perhatikan dan saya telaah lebih dalam kebanyakan mereka menggunakan sastra sms awalnya karena mereka melihat lawan atau sms balasan dari teman mereka. Jadi untuk menekan perkembangan sastra sms yaitu dengan memulai dari diri kita sendiri, contoh kecilnya saja jika kita ingin mengirim atau membalas sms dari teman kita kita seharusnya menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai EYD minimal jika kita ingin menggunakan singkatan hrus mudah dimengerti dan tidak merusak Bahasa Indonesia. Contohnya, jika kita ingin menyatakan “tidak” maka kita bida tulis “tdk” atau “dengan” kita bisa tulis “dg”.

Maka jika kita bisa memulai hal tersebut hal tersebut sedini mungkin perkembangan sastra sms bisa ditekan bahkan dihilangkan. Semuanya berawal dari diri kita masing-masing. Jadi masa depan dan kelangsungan hidup Bahasa Indonesia ada ditangan kita masing-masing.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: