Resensi Novel Sang Pelopor karya

Published Juli 3, 2012 by farahisna

Sukar adalah nama yang cocok dengan kondisi fisik tubuh bocah lelaki lugu yang setiap usai sekolah bermain cangkul, bajak dan panas matahari. Tidak salah jika kulit Sukar terpanggang hitam oleh terik matahari.

Sosok bocah yang dimunculkan oleh penulis novel motivasi. Peran yang menggambarkan perjuangan anak kampung yang memiliki semangat baja untuk menjadi seorang yang sukses dalam meraih cita-cita. Usaha-usaha yang ia perankan sebagai pelopor anak orang miskin, tetapi bisa sukses dalam pendidikan. Ambisi, aksi dan ijtihad ala Islam yang kuat, yakni selain belajar sambil bekerja, ia juga masih sempat meraih mustajab illahirobbi di sepertiga malam sebagai penyeimbang usaha Sukar.

Lugas dan renyah, judul novel Sang Pelopor, mengisahkan perubahan dari pergerakan anak kampung. Cerita yang diiringi motivasi-motivasi sukses cukup mengelitik telinga para pembaca untuk terbangun dan menyelami kembali kisah dan usaha sukses dalam novel Sang Pelopor.

Novel rintisan yang ditulis oleh Alang-Alang Timur, nama pena dari Sugeng yang mengadakan lompatan besar dan berguru di universitas ‘kehidupan’. Keterpurukan dan kepedulian pada atas pendidikan adik-adiknya membuat penulis sabar akan pentingnya sebuah pendidikan. Sebab, pendidikan bukan masalah sepele. Sehingga pantas, ia dapat merampungkan novel motivasi yang tidak kalah menariknya dengan novel Laskar Pelangi dan ini harus serta patut dibaca oleh para guru, orangtua, juga birokrasi sebagai bagian penting dalam mengawal pendidikan kita.

Kemasan sastra tulisan yang dikemas Sugeng dalam 30 bagian, seraya lengkap al-Quran 30 juz. Bermula dari cerita carut-marut kehidupan dan perjuangan tokoh utama dalam memahat ukiran di bangku sekolah, terceritakan pada bagian pertama hingga bagian ketujuh.

Pada bagian tersebut, menjadi bagian intergral ketika membincang pendidikan. Lamunkan, dalam cerita novel telah dikisahkan ada sekolah di perkampungan, yang menyebalkan, suasana ruangan yang tidak nyaman, membuat bosan, ngantuk dan lain sebagainya, apalagi ketika mendengarkan pelajaran. Sebut dalam cerita adalah sekolah di Klaten Jawa Tengah yang setiap ruang hanya memiliki dua guru dalam mengajar satu minggu. Sehingga, banyak guru yang mengarap pelajaran-pelajaran lain yang non bidang akademik guru tersebut.

Wajah lesu, loyo, tak bersemangat, ketika hanya itu saja guru yang mereka hadapi. Namun, sosok pelopor yang diperankan oleh tokoh utama Sukar dalam novel bernuasa motivasi ini, sanggup mendobrak gerbang kemalasan. Sukar, sanggup mengalahkan tuduhan “yang pintar hanya yang kaya, karena bersekolah di tempat yang favorit.” Ia sanggup meraih prestasi di bangku sekolahnya, walaupun ketika belajar di sekolah ia juga malas, dikarenakan gaya dan model pembelajaran yang tidak menyenangkan.

Terlepas dari suksesnya Sukar, bahwa ia sering kali mendapatkan pengetahuan di luar sekolah dan kebetulan pelajaran yang ia dapat di luar sekolah mirip dengan pelajaran sekolah.

Sekedar pujian dari pembaca, novel Sang Pelopor memiliki alur cerita mirip dengan film Slumdog Millionaire (2008) yang meraih penghargaan tujuh piala Oscar kategori film terbaik. Dalam film ini diceritakan bahwa ada seorang anak yang sukses meraih kekayaan miliyaran rupih pada acara Who Wants To Be A Millionaire. Tokoh Salim adalah anak peraih uang milayaran tersebut. Berbagai pertanyaan yang ia terima, banyak ia temukan jawabannya dalam perjalanan hidup Salim. Alur yang mirip dengan Sang Pelopor, yakni mendapat pengetahuan bukan di bangku sekolah melainkan di luar sekolah. Bedanya, Sukar adalah orang yang sukses dalam mencari ilmu, sedangkan Salim sukses dalam meraih kekayaan.

Kampung Sawah
Hal yang sangat menakjubkan, cerita yang sedikit beda pada novel ini, ketika sekolah Kampung Sawah tidak disukai para siswa, namun sekolah ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Tentu, keistimewaan tersebut bukan datang dengan sendirinya.

Pak Hadi, salah satu yang membantu kesuksesan tokoh utama dalam novel motivasi ini. Beliau menjadi aset paling berharga di Kampung Sawah. Selain menjadi sosok pendidik ia juga menjadi orangtua bagi murid-murid beliau. Sang pelopor itu pun bekerja tanpa gaji negara. Beliau merubah sekolah bukan hanya sekedar sebagai tempat transfer of knowledge, tetapi bagaimana siswa-siswanya dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Bahkan standar kelulusan sekolah Kampung Sawah pun tak sama dengan sekolah lain. Siswa belum dianggap lulus kalau mereka hanya bisa mengerjakan soal ujian akhir. Melainkan mereka harus dapat meninggalkan karya sebelum meninggalkan sekolah. Mereka dapat menyerahkan karya tulis, kumplan puisi, novel, atau penemuan-penemuan yang dianggap bermanfaat.

Judul Novel : Sang Pelopor
Penulis : Alang-Alang Timur
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 354 halaman
Peresensi: Bayu Tara Wijaya*

Tokoh Utama : Sukar, seorang bocah laki-laki yang setiap sepulang sekolah bermain cangkul, bajak dan panas matahari

Manfaat dan pelajaran yang dapat diambil :  Dari cerita diatas kita dapat mengetahui arti pendidikan sendiri.  Dari novel ini juga, kita dapat belajar sedikit mengenai sebuah profesi bernama pendidik, bukan guru, yang (sekali lagi) dengan benar menginterpretasi pendidikan sebagai sebuah ladang pengabdian yang bersumber dari hati, bukan aturan-aturan kaku, dan hal lainnya. dari novel ini juga ditampilkan motivasi tentang keberanian untuk bermimpi dan indahnya menghadapi kegagalan. Sebab dunia milik mereka yang BERANI MENGINGINKANNYA.

Sinopsis  : “Bekerjalah, Anakku, sebab semesta menginginkanmu bekerja, bukan menghafal. Mencoba, dan teruslah mencoba, sampai engkau menemukan legenda hidupmu sendiri. Di dalam kemiskinan dan keterbatasan, janganlah kita membuat pembenaran untuk kalah atau menyerah!” ucap Bu Kasmini kepada semua muridnya di Madrasah Kampung Sawah.
referensi :
http://bayutarawijaya.blogspot.com/2009/07/antitesis-pelopor-kampung.html
http://www.bukukita.com/Remaja/Remaja-Umum/64167-Sang-Pelopor-(Buku-1-dari-Trilogi-Novel-Motivasi).html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: