3M “Malam Minggu Mellow”

Published Maret 12, 2016 by farahisna

rutinitas tiap malem minggu sama si wuri idung yang jauh disono, yg minta gue pindah rumah supaya gak doi gak kesepian, karena tiap malem minggu gak ada yang ngapelin, dan malem minggu kali ini cuma bisa cerita lewat bbm, sedih sedihan, curhat curhatan, ngasih advice satu sama lain.. kadang jadi orang dongo, kadang jadi lurus otaknya pas lagi ngasih masukan selurus otaknya mario teguh ! hahaha

semoga semua yang kita harapkan, yang kita tunggu, doa yang kita panjatkan, harapan kita, mimpi kita berakhir indah sama kaya apa yang kita percaya ya .

semoga kita benar benar tidak bodoh dan bukan hal yang salah apa yang kita lakukan, karena berjuang untuk orang yang disayang meskipun disana kita gak tau dia kaya gimana, apa dia melakukan hal yang sama kaya yang kita lakukan, meskipun disana dia mendua dan disini kita setia, tapi like u said before, percaya aja semua bakal indah pada waktunya, kesabaran kita bakal indah..

i’ve learned many thing from u… bagaimana caranya bersabar bagaimana caranya menghadapi hal seperti ini, kenapa bisa seperti ini

terimakasih setiap malam minggu yang amat sangat super ha ha ha

kita wanita kuat yang malem minggunya cuma curhat berdua susah diapelin dan bahkan gak diapelin..

gue boleh kan bersyukur atas sahabat yang udah dititipin sama Allah macem lau hahah

 

terimakasih banyak, tangis tawa yang hadir dari curhat curhat kita yang bisa ngalahin golden ways nya mario teguh !!

 

laff you 😘

untuk kamu pria yang hatinya tak lagi untukku

Published Desember 27, 2015 by farahisna

hallo, bagaimana kabarmu?

aku yakin kamu baik baik aja disana, bahagia dengan wanita itu..

kabarku? aku baik baik saja disini dengan semua rasa yang berkecamuk di dada..

taukah kamu, beberapa bulan belakangan hingg saat ini sampai kata itu terlontar dari mulutku, aku merindukanmu, aku rindu canda tawa bersama, bermanja ria, rindu wajahmu ketika mendengar ceritaku, ingatkah kamu aku berkali kali mengajakmu bertemu ?

aku disini merindukanmu, rindu yang amat sangat menyesakkan dada, aku teringat ucapanmu ketika kau katakan bahwa hidupku hanya berputar disatu tempat, dan memang seperti itu kenyataannya.. sampai saat ini aku hanya bertemu dengan orang yang sama di tempat yang sama dengan rutinitas yang sama .. karena sebelumnya hidupku hanya berputar disekelilimgmu dan aku tidak bisa merubah itu sampai saat ini ..

maafkan aku, dengan semua masalah yang terjadi sama aku, semua beban yang terjadi sama aku, aku melampiaskan semuanya sama kamu, maafkan aku hingga tanpa sadar aku berkata sedemikian rupa, hingga bersikap sedemikian rupa, hingga akhirnya perlahan sosokmu pergi ..

menyesal? ya aku menyesal, sangat menyesal.. bagaimana bisa aku bersikap sangat bodoh.. karena kebodohan aku itu sosok yang selalu bersamaku selalu support aku beberapa tahun ini hilang ..

aku memang wanita yang seperti ini, tapi percayalah aku mencintaimu tulus, sangat tulus ..

ini sulit, sangat sulit, semua terasa menyesakkan, aku menangis setiap malam, dibuat tak bisa tidur, padahal disana mungkin kamu sedang memikirkan wanita lain yang mampu menggantikan posisiku ..

percayalah aku pernah bermimpi memilikimu selamanya, hanya aku wanita yang tak tahu diri, yang tak tahu bagaimana caranya mencurahkan isi hati, menjaga hubungan tanpa harus menyakiti ..

kamu pria pertama yang sangat berarti di hidup aku, itulah mengapa rasanya sangat sulit melepaskanmu ..

kamu tak harus melakukan apapun, hanya berbahagialah.. inshaAllah aku bahagia dengan kamu bahagia walau tidak bersamaku..

meskipun rasanya sulit memunculkan senyum bahagia di wajahku, sulit membuka hati untuk yang lain ..

aku tidak membencimu, tidak sedikitpun, aku tidak dendam padamu, tidak pernah terfikirkan sedikitpun, aku hanya marah pada diriku sendiri, aku marah pada keadaan yang membuat semua jadi seperti ini ..

percayalah, aku memaafkan semua yang pernah terjadi, rasa sakit yang pernah ada, karena rasa sakit itu yang terus mengingatkan aku sosokmu, bagaimana perjalanan hubungan kita yang tak selalu indah ..

dan aku berterimakasih atas semua kenangan indah, kenangan manis, kehadiranmu yang selalu ada disisiku ..

saat ini yang aku rasakan hanya perasaan cinta untukmu yang akan aku jaga sampai kapanpun meskipun sosokmu perlahan menghilang, hingga suatu saat kita dijodohkan oleh Allah, aamiin, inshaAllah :))

aku mencintaimu, sangat :’)

Untitled

Published Juni 18, 2015 by farahisna

 

Vi adalah seorang mahasiswa disebuah universitas swasta terkemuka di Perth. Dapat diketahui bahwa Vi adalah salah satu siswi yang cerdas, hal ini dibuktikan dengan banyaknya teman yang minta diajarkan mata kuliah yang tidak mampu dia mengerti, seperti sonny dan rio.

“ vi, sibuk ga ? gue mau les privat nih sama lo.” Kata sonny.

“privat apaan ? ih kan gue juga masih belajar, belajar bareng aja kali.” Jelas vi.

“semua mata kuliah, nanti gue sama Rio kerumah lo deh buat minta diajarin, gue lebih nyambung kalo lo yang ngajarin.” Ungkap Sonny.

Setelah obrolan panjang, akhirnya Vi mau menjadi guru privatnya namun dengan syarat hanya Rio dan Sonny. Hari demi hari pun berlalu, setelah satu bulan lamanya Vi menjadi guru privat suatu hari datang surat undangan untuk menjadi salah satu asisten laboratorium yang sesuai dengan kemampuannya. Tanpa fikir panjang lagi dia pun menerima tawaran tersebut. Sampai saat ini sudah hampir 6 bulan ia bekerja di laboratorium tersebut.

Suatu hari datanglah salah satu asisten laboratorium lain yang memang ruangannya berdekatan untuk mengunjungi salah satu temannya yang merupakan asisten laboratorium di tempat Vi bekerja. Namanya adalah Eza, sosoknya tinggi dengan tubuh sangat ramping dan dengan penampilan yang sangat berwibawa. Vi pun merasa tertarik dengannya, beberapa hari kemudian merekapun sudah mempunyai kontak hp satu sama lainnya.

Setelah pendekatan yang cukup lama, diketahui bahwa Vi telah menjadi kekasih dari Eza, banyak asisten yang merasa iri, karena mereka sama sama pintar dan cantik serta tampan. Awal-awal pacaran Vi selalu diperlakukan layaknya seorang putri.

“Kamu mau makan apa ?? pulang mau aku jemput ga ?” Tanya Eza.

“Nanti aja deh kita makan bareng, gausah jemput.” Jawab Vi.

“Oke sayang. Love you :*”

“Love you too :*”

Namun setelah hubungan mereka berjalan selama 2 bulan, datanglah seorak pria dalam kehidupannya Vi, dia adalah seseorang yang dahulu pernah dekat dengan Vi, namanya Fiky. Dia seorang dokter muda. Fiky mulai berusaha untuk merebut hati Vi kembali. Eza pun mengetahui hal ini dan dia merasa dalam kehidupannya Vi terlalu banyak pria, dia pun mulai marah dan mulai melarang hal-hal yang seringkali dilakukan oleh Vi. Dengan prilaku dari Eza ini membuat Vi makin tidak respect dengannya, apalagi yang dilakukannya sudah diluar batas seorang pacar, menurut Vi, Eza sangat terobsesi dengannya dan dia merasa sangat tidak nyaman. Setelah dia berfikir secara matang, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Eza dan dia juga tidak membuka hatinya untuk Fiky.

“ Kita udahan aja ya.” Jelas Vi

“Loh kenapa ? maafin aku, aku bakal berubah buat kamu, jangan putus ya” mohon Eza.

“Udah kita udahan aja”. Kata Vi

Setelah kejadian itu Vi mulai menjadi sangat pemilih dan menutup hatinya rapat-rapat bagi semua pria yang mendekatinya. Dan Vi mulai merasa bahwa hidupnya lebih bahagia saat ini ketika dia tidak mempunyai kekasih dibandingkan ketika dia memiliki seorang pacar.

Jurnal Referensi 3

Published Juni 7, 2015 by farahisna

ANALISIS PREDIKTOR KEBANGKRUTAN TERBAIK DENGAN
MENGGUNAKAN METODE ALTMAN,SPRINGATE DAN ZMIJEWSKI PADA
PERUSAHAAN DELISTING DARI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2012
(Studi Laporan Keuangan Tahun 2007-2011)
BEST PREDICTORS OF BANKRUPTCY ANALYSIS METHODS USING
ALTMAN,SPRINGATE AND ZMIJEWSKI IN DELISTING COMPANY OF THE
INDONESIA STOCK EXCHANGE 2012
(Study Of Financial Report 2007-2011)

Dita Wisnu Savitri
ditawisnus@yahoo.com
Program StudiS1 Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika
Universitas Telkom
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif penggunaaan metode Altman, Springate dan
Zmijewski sebagai prediktor terbaik dalam menganalisis perusahaan yang telah delisting pada tahun 2012, dan
untuk mengetahui dari ketiga metode yang digunakan manakah metode yang paling tepat prediksinya dalam
menganalisis keadaan perusahaan bahkan setelah perusahaan tersebut telah delisting dari Bursa Efek Indonesia.
Jenis penelitian yang digunakan didalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perusahaan yang telah delisting dari Bursa Efek Indonesia tahun 2012,
dengan menggunakan pendekatan studi laporan keuangan periode 2007-2011 atau lima tahun sebelum
perusahaan tersebut delisting dari Bursa Efek Indonesia. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan
menggunakan non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan rasio-rasio yang ada didalam metode Altman, Springate dan Zmijewski, yaitu working
capital to total asset, retained earning to total asset, EBIT to total asset, MVE to BVTL, sales to total asset, BVE
to BVTL, earning before tax to current liabilities, ROA, debt ratio, dan current ratio.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Altman merupakan metode yang paling efektif
digunakan untuk memprediksi perusahaan yang telah delisting dari dua metode lain yang digunakan yaitu
metode Springate dan Zmijewski. Metode Altman memprediksi dengan efektif, dikarenakan bahwa tidak semua
perusahaan perusahaan delisting merupakan perusahaan yang bangkrut dan metode Altman telah
membuktikannya berdasarkan fakta-fakta. Metode Zmijewski memberikan performance yang buruk dari dua
metode lain yang digunakan.
Kata Kunci : Metode Altman, Metode Springate, Metode Zmijewski, dan Delisting
ABSTRACT
This study purpose to understand how effective to use of the methods Altman, Springate and Zmijewski as
the best predictor to analyst companies that have been delisting in the year of 2012, and to understand from the
three of methods used which the most appropriate. This study used analyst descriptive quantitative method. The
population used in this study, are companies that have been delisting on the year 2012,approach of the financial
statements from 2007 to 2011, or five year before the companies delisting from Bursa Efek Indonesia.
The sampling technique is non-probablitiy sampling with purposive sampling technique. The variabels
used in this study, are financial ratio that exists within methods Altmam, Springate and Zmijewski, their are
working capital to total asset, retained earning to total asset, EBIT to total asset, MVE to BVTL, sales to total
asset, BVE to BVTL, earning before tax to current liabilities, ROA, debt ratio, dan current ratio.
Conclusions on this study, that Altman method is the most effective method to predict companies that
have been delisting. Altman is the most effective method because, not for all companies that have been delisting
will bankruptcy, and Altman method has prove it based on facts. Zmijewski give bad performance from two
others methods used.
Keywords:Altman Method, Springate Method , Zmijewski Method and Delisting.

1. PENDAHULUAN

Go Public yaitu dimana suatuperusahaan yang baru pertama kali menawarkan saham-sahamnya
kepada masyarakat pemodal. Adanya pasar modal dapat dijadikan sebagai alat untuk merefleksikan
kinerja dan kondisi keuangan perusahaan, pasar akan merespon positif melalui pengingkatan harga saham
, jika kondisi keuangan perusahaan baik. (Alwi, 2003:11). Menjadi perusahaan yang telah terdaftar
sebagai perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia, diharuskan untuk memenuhi segala kewajibankewajiban
yang telah sebelumnya disepakatai secara bersama oleh pihak pasar modal dan pihak emiten
yang mendaftar.
Emiten yang terdaftar sebagai perusahaan go public tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah
disepakati, maka perusahaan dapat terancam di delisting melalui Bursa Efek. Pencabutan hak sebagai
perusahaan go public, dikarenakan perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban sebagai perusahaan go
public seperti melaporkan kinerja laporan keuangan dengan baik, harga saham yang membaik. Beberapa
kasus delisting yang sempat terjadi yaitu pada tahun 2012, terdapat tiga perusahaan tercatat yang di
delisting oleh pihak pasar modal dikarenakan tidak mampu memenuhi kewajibannya yaitu PT. Katarina
Utama,Tbk, PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, PT. Suryainti Permata Tbk.
Berdasarkan data yang telah dipublikasikan melalui situs http://www.idx.co.id melalui laporan tahunan
pada perusahaan yang telah delisting, terjadi penurunan laba bersih dari seluruh perusahaan yang delisting
hingga tahun 2009 dan mengalami peningkatan di tahun 2010 serta mengalami penurunan kembali di
tahun 2011. Untuk lebih mudah, dapat dilihat melalui Diagram 1.1 sebagai berikut:

Perusahaan-perusahaan yang telah di delisting dikarenakan tidak dapat memenuhi kewajiban yang
telah disepakati bersama sebelum perusahaan terdaftar sebagai perusahaan go public.Perusahaan PT.
Katarina Utama di delisting dari BEI dikarenakan perusahaan sudah tidak membukukan pendapatan pada
tahun 2010.(www.financeindonesia.org yang diakses pada tangga 26 Maret 2014).
Perusahaan PT. Suryainti Permata di delisting yang disebabkan adanya kegagalan dalam
pembayaran obligasi sebesar $ 5,03 juta per semester kepada Oversign BV yang berkedudukan di
Amsterdam, Belanda.Selain itu. denda dan beban administrasi pajak juga ikut membebani neraca
keuangan perusahaan sehingga rugi tahun berjalan membengkak menjadi Rp 42,6 miliar per
September 2011. (http://investasi.kontan.co.id/ yang diakses pada tanggal 09 Juni 2014).
Delisting juga terjadi terhadap perusahaan PT. Multibreeder Adirama Indonesia hal ini
disebabkan perusahaan mengalami merger dengan perusahaan sektor terkait yaitu PT. Japfa Comfeed
Tbk. (www.sahamok.com yang diakses pada tanggal 26 Maret 2014)

Latar belakang penulis untuk melakukan penelitian dimana penelitian tentang analisis
kebangkrutan pada perusahaan yang telah delisting dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang
dikembangkan kedalam metode-metode seperti Altman, Springate dan Zmijewski masih jarang di
Indonesia. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Mila Fatmawati (2012) yang mengungkapkan bahwa
metode Zmijewski memiliki nilai lebih akurat dibandingkan dengan metode Altman dan Springate, hal ini
disebabkan karena metode Zmijewski lebih menekankan besarnya hutang dalam memprediksi delisting.
Penelitian yang dilakukan oleh Margaretta Fanny dan Slyvia Saputra (2004) menjelaskan bahwa
metode Altman (Z Score dan Z’ Score) mempengaruhi ketepatan pemberian opini audit. Hal ini terjadi
karena pertumbuhan aset perusahaan tidak diikuti dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba serta meningkatkan saldo labanya.
Disamping masih rendahnya penelitian tentang analisis kebangkrutan ini, tujuan dari analisis ini
adalah untuk dapat memberikan gambaran bagi manajemen perusahaan baik eksternal maupun internal
perusahaan agar dapat terus bertahan dalam persaingan bisnis yang terus berkembang.Untuk itu penulis
ingin melakukan penelitian tentang “Analisis Prediktor Kebangkrutan Terbaik Dengan
Menggunakan Metode Altman, Springate dan Zmijewski Pada Perusahaan Delisting Dari Bursa
Efek Indonesia Tahun 2012 (Laporan Keuangan 2007-2011)”.
Perumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah penelitian di atas maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Seberapa efektif penggunaan Metode Altman sebagai analisis prediktor terbaik dalam menganalisis
kebangkrutan pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012?
2. Seberapa efektif penggunaan Metode Springatee sebagai analisis prediktor terbaik dalam menganalisis
kebangkrutan pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012?
3. Seberapa efektif penggunaan Metode Zmijewski sebagai analisis prediktor terbaik dalam menganalisis
kebangkrutan pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012?
4. Manakah dari Metode Altman, Metode Springate dan Metode Zmijewski yang paling tepat digunakan
untuk menganalisis perusahaan delisting dari Bursa Efek Indonesia Tahun 2012?
Tujuan Penelitian
Merujuk dari identifikasi perumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui Metode Altman Z-score merupakan prediktor terbaik dalam menganalisis
kebangkrutan pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012.
2. Untuk mengetahui Metode Springate merupakan prediktor terbaik dalam menganalisis kebangkrutan
pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012.
3. Untuk mengetahui Metode Zmijewski merupakan prediktor terbaik dalam menganalisis kebangkrutan
pada perusahaan delisting dari Bursa efek Indonesia Tahun 2012.
4. Untuk mengetahui metode yang paling tepat dari Metode Altman, Metode Springate dan Metode
Zmijewski digunakan untuk menganalisis perusahaan delisting dari Bursa Efek Indonesia Tahun 2012.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Laporan Keuangan
Hery (2012:3) laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai
alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak yang
berkepentingan. Pihak berkepentingan tersebut, dibagai dalam dua bagian yaitu pihak interal dan pihak
eksternal.
Komponen Laporan Keuangan
a. Laporan Laba/Rugi (Income Statement)
Laporan laba/rugi adalah laporan yang menyajikan ukuran keberhasilan operasional perusahaan
selama periode waktu tertentu. Lewat laporan laba/rugi investor dapat mengetahui besarnya tingkat
profitabilitas yang dihasilkan oleh investee. Melalui laporan laba/rugi kreditor juga dapat
mempertimbangkan kelayakan kredit debitor. Penetapan pajak yang nantinya akan disetorkan kepada kas
negara, juga diperoleh berdasarkan jumlah laba bersih yang ditunjukkan lewat laporan laba/rugi, hal ini
diungkapkan oleh Hery (2012:4).
b. Laporan Ekuitas Pemegang saham (Statement of Stockholders Equity)
Laporan ekuitas pemegang saham menurut Hery (2012:5) adalah laporan yang menyajikan ikhtisar
perubahan dalam pos-pos ekuitas suatu perusahaan untuk satu periode tertentu. Selama periode tersebut,
4
perubahan ekuitas pemegang saham disebabkan oleh penerbitan dan pembelian kembali saham, serta
penginvestasian kembali laba bersih yang masih tersisa ke dalam perusahaan.
c. Neraca (Balance Sheet)
Menurut Fahmi (2011:29) neraca merupakan informasi yang menggambarkan tentang kondisi dan
situasi current asset, non current asset, liabilities, dan shareholders equity serta berbagai item
lainnya,untuk selanjutnya informasi tersebut dijadikan sebagai alat dalam mendukung proses
pengambilan keputusan (decision making).
d. Laporan Arus Kas (Statement od Cash Flows)
Menurut Hery (2012:9) laporan arus kas merupakan sebuah laporan yang menggambarkan arus
kas masuk dan arus kas keluar secara terperinci dari masing-masing aktivitas, yaitu aktivitas operasi,
aktivitas investasi, aktivitas pendanaan/pembiayaan untuk satu periode tertentu.
Analisis Kebangkrutan Metode Altman
Altman (1968) menggunakan metode Multiple Discriminant Analysis. Altman menggunakan lima
rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan memprediksi kebangkrutan perusahaan. Pada
penelitian ini penulis menggunakan metode Altman pada sektor public manufacture dan service sector
menurutGerald I. (2001:652-653).
Model Altman pada sektor Public Manufacture, sebagai berikut:
Z-Score = 1,2X1 + 1.4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 +1,0X5
Notasi :
X1 = Working Capital/Total Assets
X2 = Retained Earnings/Total Assets
X3 = Earning Before Interest and Taxes/Total Assets
X4 = Market Value of Equity/Book Value of Total Liabilities
X5 = Sales/Total Assets
Kriteria analisinya, perusahaan yang memiliki probabilitas nilai Z ≥ 3,0 maka dinyatakan tidak bangkrut,
1,8 < Z< 3,0 masuk kedalam kategori grey area dan nilai Z ≤ 1,8 maka dapat dinyatakan bangkrut.
Model Altman pada service sector, sebagai berikut:
Z-Score = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4
Notasi :
X1 = Working Capital/Total Assets
X2 = Retained Earnings/Total Assets
X3 = Earning before Interest and Taxes/Total Assets
X4 = Book Value of Equity/Book Value of Total Liabilities
Kriteria analisinya, perusahaan yang memiliki probabilitas nilai Z ≥ 2,6 maka dinyatakan tidak bangkrut,
1,10< Z<2,6 masuk kedalam kategori grey area dan nilai Z ≤ 1,10 maka dapat dinyatakan bangkrut.
Analisis Kebangkrutan Metode Springate
Didalam Guinan (2009:236) metode Springate merupakan model yang dikembangkan oleh
Springate (1978) dengan menggunakan analisis multidiskrimanan. Pada awalnya Springate menggunakan
19 rasio, namun setelah melakukan pengujian Springate mengambil empat rasio dengan model, sebagai
berikut:
Z = 1,03A + 3,07B + 0,66C + 0,4D
Notasi:
A= Working Capital to Total Asset Ratio(WC/TA)
B = Earning Before Interest and Taxes To Total Asset Ratio (EBIT/TA)
C = Earning Before taxes to Current Liabilities Ratio(EBT/CL)
D = Sales to Total Asset Ratio(S/TA)
Kriteria analisinya, perusahaan yang memiliki nilai Z ≥ 0,862 maka dinyatakan tidak bangkrut,
sedangkan nilai Z ≤ 0,862 maka dapat dinyatakan bangkrut.
Analisis Kebangkrutan Metode Zmijewski
5
Dalam Fatmawati M (2012) metode Zmijewski melakukan studi atau riset, dengan menggunakan
probit analisis yang diterapkan pada 40 perusahaan yang telah bangkrut dan 800 perusahaan yang masih
sehat. Kriteria penelitian yaitu, semakin besar nilai X maka semakin besar kemungkinan perusahaan
tersebut menjadi bangkrut, lain halnya jika bernilai negatif maka perusahaan tersebut tidak berpotensi
untuk bangkrut. Rasio keuangan yang dianalisis menurut Zmijewski, adalah :
Keterangan:
X1 (Return On Asset) = ( EAT / Total Assets ) x 100%
X2 (Debt Ratio) = ( Total Debt/Total Asset ) x 100%
X3 (Current Ratio) = ( Current Asset/Current Liabilities ) x 100%
Sumber: Saputra,F.M (2005:4)
Jika dalam perhitungannya, skor yang dihasilkan melebihi dari angka 0, maka perusahaan tersebut
diprediksi akan mengalami kebangkrutan, sebaliknya jika skor yang dihasil kurang dari 0 maka
perusahaan tersebut tidak akan mengalami kebangkrutan.
Kebangkrutan
Bagi perusahaan yang go public kebangkrutan perusahaan sangatlah sensitif, karena perusahaan
yang go public harus siap melaksanakan segala kewajiban oleh pasar modal. Pengertian kebagkrutan
menurut Yani (2004:153) merupakan suatu kondisi disaat perusahaan mengalami ketidakcukupan dana
untuk menjalankan usahanya.
Suatu perusahaan dapat dikatakan bangkrut, jika mengalami beberapa indikator sebagai yang
diungkapkan oleh Surjanto (2003:184), tanda yang dapat dilihat jika sebuah perusahaan mengalami
kesulitan dalam menjalankan bisnisnya, antara lain:
a. Penjualan atau pendapatan yang mengalami penurunan secara signifikan.
b. Penurunan laba dan arus kas dari operasi.
c. Penurunan total aktiva.
d. Harga pasar saham menurun secara signifikan.
e. Kemungkinan gagal yang besar dalam industry, atau risiko yang tinggi.
f. Young company, perusahaan yang usianya masih muda pada umumnya mengalami kesulitan di tahuntahun
awal operasinya, sehingga kalau tidak didukung sumber permodalan yang kuat akan dapat
mengalami kesulitan keuangan yang serius dan berakhir dengan kebangkrutan.
g. Pemotongan yang signifikan dalam dividen.
Delisting
Perusahaan yang telah tercatat sebagai perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia, tidak
selamanya berjalan dengan baik. Menurut Darmadji (2011:84) perusahaan dituntut untuk memnuhi segala
kewajibannya sebagai perusahaan listing. Jika kewajiban tersebut, tidak dapat dipenuhi maka perusahaan.
dapat terancam delisting dari Bursa Efek Indonesia.Delisting dapat terjadi jika:
1. Delisting yang dilakukan secara paksa (forced delisting). Bentuk delisting ini sering terjadi ketika suatu
emiten atau perusahaan tersebut tidak lagi dapat memenuhi kriteria dan syarat pencatatan yang telah
ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia.
2. Mekanisme delisting yang dilakukan secara sukarela (voluntary delisting), dimana emiten mengajukan
permohonan untuk keluar dari bursa menurut alasa-alasan internal.
Kerangka Pemikiran Penelitian
Berdasarkan uraian tinjauan pustaka penelitian, maka kerangka pemikiran yang diajukan dalam
penelitian ini dapat ditunjukkan melalui gambar berikut :
6
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
3. METODE PENELITIAN
Berdasarkan variabel yang diteliti, latar belakang dan identifikasi masalah, maka jenis penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode pengambilan sampel
non-probability sampling. Melalui metode tersebut, dapat diperoleh gambarandengan melakukan suatu
analisis teori dari rasio keuangan sebagai titik tolak pemikirannya. Fakta dan data yang diperoleh selama
penelitian berlangsung, penulis adakan pengolahan setalah itu dianalisis dan ditarik kesimpulan
berdasarkan teori yang ada, sehingga dapat memberikan gambaran tentang keadaan keuangan dari tiga
perusahaan yang delisting dari Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012, periode yang dijadikan acuan
merupakan laporan keuangan lima tahun sebelum perusahaan delisting atau selama periode 2007-2011.
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL
Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan yang telah delisting dengan memnuhi kriteria
sebagai sampel sebanyak tiga perusahaan, dengan menggunakan acuan studi pada laporan keuangan yang
ada dan lengkap pada tahun 2007 hingga tahun 2011. Masing-masing perusahaan dianalisis dengan
menggunakan metode Altman, Springate dan Zmijewski yang dibahas pada tabel-tabel sebagai berikut :
Hasil Prediksi Model Altman
Hasil Prediksi Altman Model Public Manufacture dan Service Sector

Kriteria yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan sebuah perusahaan dengan model ini
adalah, bagi perusahaan yang masuk ke dalam kategori public manufacture jika nilai Z ≥ 3,0 maka
dinyatakan tidak bangkrut, 1,8 < Z< 3,0 masuk kedalam kategori grey area dan nilai Z ≤ 1,8 maka dapat
dinyatakan bangkrut. membuktikan bahwa perusahaan yang masuk kedalam kategori
public manufacture adalah perusahaan MBAI dimana diprediksi perusahaan mengalami tidak mengalami
kebangkrutan dikarenakan nilai Z skor yang jatuh pada grey area lebih condong mengarah sebagai
perusahaan yang tidak bangkrut. Sedangkan bagi perusahaan yang masuk kedalam kategori service sector
jika nilai Z ≥ 2,6 maka dinyatakan tidak bangkrut, 1,10< Z<2,6 masuk kedalam kategori grey area dan
nilai Z ≤ 1,10 maka dapat dinyatakan bangkrut. Hasil prediksi pada Tabel 4.1 membuktikan bahwa
perusahaan RINA dan SIIP keduanya diprediksi mengalami kebangkrutan. Keefektifan metode Altman
dihasilkan dengan nilai dari total akurasi sebesar 100% dan type error sebesar 0%.

Hasil Prediksi Metode Springate

Kriteria yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan sebuah perusahaan dengan model ini
adalah, bagi perusahaan yang memiliki Z ≥ 0,862 maka dinyatakan tidak bangkrut, sedangkan nilai Z ≤
0,862 maka dapat dinyatakan bangkrut. menghasilkan bahwa masingmasing
perusahaan berpotensi mengalami kebangkrutan. Keefektifan metode Springate dihasilkan dengan
nilai dari total akurasi sebesar 66.67% dan type error sebesar 33.33%.

Hasil Prediksi Metode Zmijewski

Kriteria yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan sebuah perusahaan dengan model ini
adalah, jika dalam perhitungannya, skor yang dihasilkan melebihi dari angka 0, maka perusahaan tersebut
diprediksi akan mengalami kebangkrutan, sebaliknya jika skor yang dihasil kurang dari 0 maka
perusahaan tersebut tidak akan mengalami kebangkrutan. dapat dilihat
bahwa masing-masing perusahaan diprediksi tidak akan mengalami kebangkrutan. Keefektifan metode
Altman dihasilkan dengan nilai dari total akurasi sebesar 33.33% dan type error sebesar 66.67%.

PEMBAHASAN
Hasil analisis dengan menentukan total akurasi dari masing-masing metode menunjukkan bahwa
metode Altman merupakan metode paling efektif, dalam memprediksi dan menganalisis perusahaan
delisting. Adapun, hasil tersebut, yang menyebutkan metode Altman, memiliki tingkat keakuratan sebesar
100% atau tiga perusahaan yang diprediksi sesuai dengan keadaan dimana perusahaan setelah mengalami
delisting.
Metode Zmijewski, memiliki nilai keakuratan sebesar 33.33% atau satu dari ketiga perusahaan
yang dianalisis sesuai dengan keadaan dimana perusahaan setelah mengalami delisting. Adapun, hasil ini
bertentangan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Menurut Fatmawati (2012),
metode Zmijewski merupakan prediktor analisis terbaik dari metode Altman dan Springate. Metode
Zmijewski berpusat terhadap, nilai total hutang jika nilai hutang semakin besar maka perusahaan akan di
delisting.

Sedangkan untuk metode Springate metode ini, mengacu terhadap jumlah keuntungan yang
didapat oleh perusahaan. Jika perusahaan memiliki kerugian, maka perusahaan tidak dapat memanfaatkan
seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan. Penelitian ini didukung oleh penelitian , Peter
dan Yoseph (2011) yang mengungkapkan bahwa metode Altman merupakan metode prediksi delisting
terbaik dibandingkan dengan model Zmijewski dan Springate. Serta penelitian Adnan, H dan Arisudhana
(2010) bahwa metode Altman lebih ketat menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan dengan metode
springate

5. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan atas hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan oleh penulis, maka dalam
penelitian ini ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Metode Altman memprediksi kebangkrutan sebesar 100% pada perusahaan yang delisting dari Bursa
Efek Indonesia tahun 2012, studi kasus pada laporan keuangan tahun 2007-2011.
2. Metode Springate memprediksi kebangkrutan sebesar 66,67% pada perusahaan yang delisting dari
Bursa Efek Indonesia tahun 2012, studi kasus pada laporan keuangan tahun 2007-2011.
3. Metode Zmijewski memprediksi kebangkrutan sebesar 33,33% pada perusahaan yang delisting dari
Bursa Efek Indonesia tahun 2012, studi kasus pada laporan keuangan tahun 2007-2011.
4. Pada penelitian ini, prediktor kebangkrutan terbaik pada perusahaan delisting dari ketiga metode yang
digunakan adalah metode Altman. Hal ini disebabkan, hasil yang diberikan sangat akurat dengan
keadaan perusahaan sebelum dan sesudah delisting. Sedangkan, metode Zmijewski memberikan
performance hasil yang buruk dalam memprediksi kebangkrutan.
Saran
Setelah dilakukannya penelitian, dan ditemukannya hasil serta kesimpulan dalam penelitian ini,
maka adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini, sebagai acuan dalam melakukan penelitian
yang sama dikemudian hari, adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan jumlah sampel dalam penelitian selanjutnya lebih ditambahkan lagi.
2. Penelitian selanjutnya, dapat menggunakan metode prediksi kebangkrutan selain dari ketiga metode
yang telah dilakukan oleh penulis.Seperti menggunakan metode Ohlson yang hingga kini, masih belum
terlalu banyak digunakan oleh para peneliti untuk digunakan sebagai prediktor kebangkrutan baik pada
perusahaan yang masih listing atau perusahaan yang telah delisting.
3.Penelitian selanjutnya, diharapkan agar dapat membuat metode prediksi yang baru yang digabungkan
dengan beberapa metode prediksi lainnya, sehingga tidak hanya bersifat untuk mengetahui keefektifan
metode prediksi yang telah ada. Seperti halnya adanya perbedaan antara metode Zmijewski dengan
Ohlson atau Perbedaan metode Springate dengan Altman.
4. Diharapkan dalam penelitian selanjutnya, analisis yang dilakukan tidak hanya untuk mengetahui
prediksi kebangkrutan bagi suatu perusahaan, namun dapat memberikan solusi dalam meminimalisir
prediksi kebangkrutan yang lebih buruk lagi.
6. DAFTAR PUSTAKA
Alwi, I. Z. (2003). Pasar Modal, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Nasindo Internusa.
Darmadji Tjiptono dan Hendy M. Fakhruddin. (2011). Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba
Empat.
Edward I. Altman, E. H. (2006). Coorporate Financial Distress and Bankruptcy : Predict and Avoid
Bankruptcy, Analyze and Invest in Distressed Debt. New Jersey: Wiley.
Fahmi, I. (2011). Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Fanny Margaretta, S. S. (2005). Opini Audit Going Concern: Kajian Berdasarkan Model Prediksi
Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan dan Reputasi Kantor Akuntan Publik (Studi Pada Emiten
Bursa Efek Jakarta). Proceding Simposium Nasional Akuntansi Vol. VIII , 966-978.
Fatmawati, M. (2012). Penggunaan Zmijewski Model, The Altman Model, dan The Springate Model
Sebagai Prediktor Delisting. Jurnal Keuangan dan Perbankan Vo. 16 , 56-65.
Gerald I., e. A. (2001). The Analysis and Use of Financial Statement. Canada: John Willey and Sons Inc.
Guinan, J. (2009). Investopedia. Jakarta: Mizan Publika.
Hafiz Adnan, D. A. (2010). Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score dan Springate Pada
Perusahaan Industri Properti. Jurnal Akuntansi Keuangan Vol. 1 No. 162 , 89-110.
Hery, S. M. (2012). Analisis Laporan Keuangan . Jakarta: Bumi Aksara.
Peter, Y. (2011). Analisis Kebangkrutan Dengan Metode Altman, Springate, Zmijewski Pada PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk (2005-2009). Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol. 4
Surjanto, R. L. (2003). Financial Performance Analyzing . PT. Gramedia: Jakarta.
10
Yani, W. (2004). Seri Hukum Bisnis Kepailitan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://www.idx.co.id( 20 Februari 2014)
http://www.siip.co.id (13 Juni 2014)
http://investasi.kontan.co.id/news/mulai-besok-siip-resmi-delisting-dari-bursa (26 Maret 2014)
http://www.sahamok.com/emiten/sektor-pertanian/sub-sektor-peternakan/ (26 Maret 2014)
http://www.financeindonesia.org/content.php?659-PT-Katarina-Utama-Tbk.-Resmi-Delisting-Dari-BEI
(26 Maret 2014)

Jurnal Referensi 2

Published Juni 7, 2015 by farahisna

Analisis Penggunaan Altman Z-score dan Springate
untuk Mengetahui Potensi Kebangkrutan pada
PT.Bakrie Telecom Tbk

Kokyung (hankokyung@rocketmail.com)
Siti Khairani (Siti.Khairani@mdp.ac.id)
Jurusan Akuntansi
STIE MDP
Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan penggunaan metode Altman Z-score dan Springate, serta mengetahui dan menganalisis perbedaan penggunaan metode Altman Z-score dan Springate dalam memprediksi potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk. Data yang digunakan adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Altman Z-score dan Springate mampu memprediksi potensi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk pada tahun 2009-2012, dimana metode Altman Z-score dan Springate mendeteksi bahwa telah terjadi penurunan kinerja yang signifikan pada PT.Bakrie Telecom Tbk. Terdapat perbedaan hasil prediksi kebangkrutan antara metode Altman Z-score dan Springate dikarenakan adanya perbedaan penggunaan rasio keuangan dan kriteria kebangkrutan antara Altman Z-score dan Springate.
Kata kunci : Metode Analisis Kebangkrutan, Altman Z-score, Springate.
abstract
The purpose of this study is to investigate and analyze the potential bankruptcy of the PT.Bakrie Telecom Tbk with the use of the method of Altman Z-score and Springate, as well as identify and analyze the different uses of the method and the Altman Z-score in predicting potential Springate bankruptcy on PT.Bakrie Telecom Tbk. The data used are secondary data. Data collection techniques used method of documentation. Analysis of the data used is qualitative. The results showed that the method of Altman Z-score and Springate able to predict the potential bankruptcy of the PT.Bakrie Telecom Tbk in 2009-2012, where the Altman Z-score method and Springate detect that there has been a significant decline in performance on PT.Bakrie Telecom Tbk. There are differences between the results predicted bankruptcy Altman Z-score method and Springate because of differences in the use of financial ratios and bankruptcy criteria between the Altman Z-score and Springate.
Key words: Method of Analysis of Bankruptcy, Altman Z-score, Springate

I PENDAHULUAN

Kemampuan suatu perusahaan untuk dapat bersaing sangat ditentukan oleh kinerja perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang tidak mampu bersaing untuk mempertahankan kinerjanya lambat laun akan tergusur dari lingkungan industrinya dan akan mengalami kebangkrutan. Agar kelangsungan hidup suatu perusahaan tetap terjaga, maka pihak manajemen harus dapat mempertahankan atau terlebih lagi memacu peningkatan kinerjanya.
PT.Bakrie Telecom Tbk merupakan perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA. Perusahaan ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo), yang didirikan pada bulan Agustus 1993, sebagai anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk yang bergerak dalam bidang telekomunikasi di DKI Jakarta. Namun, PT.Bakrie Telecom Tbk mengalami penurunan Laba yang sangat drastis pada akhir tahun 2012.

Dalam penelitian Willy (2011, h. 4), Model Altman (Z-Score) merupakan salah satu model analisis multivariate yang berfungsi untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat ketepatan dan keakuratan yang relatif dapat dipercaya. Model ini memiliki akurasi mencapai 95% jika menggunakan data 1 tahun sebelum kondisi kebangkrutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi kebangkrutan serta kinerja keuangan perusahaan berdasarkan hasil analisis diskriminan dengan menggunakan model Altman berdasarkan rasio lima variabel, yaitu:
1. Net Working Capital to Total Asset
2. Retained Earnings to Total Assets
3. Earning Before Interest and Tax to Total Asset
4. Market Value of Equity to Book Value of Debt
5. Sales to Total Asset.

Model Springate adalah model rasio yang menggunakan multiple discriminate analysis (MDA). Dalam metode MDA diperlukan lebih dari satu rasio keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk suatu model yang baik. Rasio yang digunakan, yaitu:
1. Working capital/total assets
2. Net profit before interest and taxes/total assets
3. Net profit before taxes/current liabilities
4. Sales/total assets
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ida dan Sandy Santoso (2011, h. 21), model ini memiliki akurasi 92,5% dalam tes yang dilakukan Springate.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti berkeinginan melakukan penelitian mengenai “Analisis Penggunaan Altman Z-score Dan Springate Untuk Mengetahui Potensi Kebangkrutan Pada PT.Bakrie Telecom Tbk”.

II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Jumingan (2009, h. 4), laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Transaksi dan peristiwa yang bersifat financial dicatat, digolongkan, dan diringkaskan dengan cara setepat-tepatnya dalam satuan uang, dan kemudian diadakan penafsiran untuk berbagai tujuan.

2.2 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Hanafi (2009, h. 5), analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.

2.3 Pengertian Neraca
Menurut Hanafi (2009, h. 50), menyatakan bahwa salah satu tujuan pelaporan keuangan biasanya dikatakan untuk membantu investor, kreditur, dan pihak-pihak lain menaksir besar, waktu (timing), serta tingkat ketidakpastian aliran kas suatu perusahaan atau entitas. Tujuan yg lebih spesifik adalah untuk memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan modal sendiri dari suatu entitas atau perusahaan. sumber daya ekonomis (aset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan hubungan antar item tersebut.

2.4 Pengertian Laporan Laba Rugi
Menurut Kasmir (2013, h. 45), menyatakan bahwa jenis laporan keuangan lainnya selain neraca adalah laporan laba rugi. Berbeda dengan neraca yang melaporkan informasi tentang kekayaan, utang, dan modal, laporan laba rugi memberikan informasi tentang hasil-hasil usaha yang diperoleh perusahaan. Laporan laba rugi juga berisi jumlah pendapatan yang diperoleh dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain, laporan laba rugi merupakarn laporan yang menunjukkan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu.

2.5 Pengertian Kebangkrutan
Istilah “pailit” dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris. Dalam bahasa Perancis, istilah “failite” artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran. Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar hutangnya disebut dengan Le falli. Di dalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah to fail, dan di dalam bahasa Latin dipergunakan istilah failire. Di negara-negara yang berbahasa Inggris, untuk pengertian pailit dan kepailitan dipergunakan istilah “bankrupt” dan “bankruptcy”.
Menurut Hanafi (2009, h. 262), kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum begitu parah. Tetapi kesulitan semacam itu apabila tidak ditangani bisa berkembang menjadi kesulitan tidak solvabel (hutang lebih besar dibanding aset). Kalau tidak solvabel, perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih apabila nilai likuidasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalau diteruskan. Reorganisasi dipilih kalau perusahaan masih menunjukan prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau diteruskan lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.

2.6 Rasio Altman Z-Score
Menurut Toto Prihadi (dalam Resti Amalia Ulfah, 2012), secara matematis persamaan Altman Z-Score tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
Dimana:
Z : Z-score
X1: Net Working Capital to Total Asset
X2: Retained Earnings to Total Asset
X3: Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets
X4: Market Value of Equity to Book Value of debt
X5: Sales to Total Assets

Rasio-rasio altman z-score yaitu:
1. Net Working Capital to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya. Rasio ini dihitung dengan membagi modal kerja bersih dengan total aktiva. Modal kerja bersih diperoleh dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Modal kerja bersih yang negatif kemungkinan besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut Sebaliknya, perusahaan dengan modal kerja bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajibannya.
2. Retained Earnings to Total Assets
Rasio ini mengukur keuntungan kumulatif terhadap umur perusahaan yang menunjukkan kekuatan pendapatan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham.

3. Earning Before Interest and Tax to Total Asset
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.

4. Market Value of Equity to Book Value of Debt
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dari nilai pasar modal sendiri (saham biasa). Nilai pasar ekuitas sendiri diperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkan kewajiban lancar dengan kewajiban jangka panjang.

5. Sales to Total Asset
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup dibandingkan investasi dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba.
Dengan kriteria penilaian apabila nilai S > 2,99 maka perusahaan tidak mempunyai masalah keuangan yang srius (tidak bangkrut), apabila 1,81 < Z < 2,99 maka perusahaan akan mengalami permasalahan keuangan jika tidak melakukan perbaikan yang berarti dalam manajemen maupun struktur keuangan (daerah rawan), dan apabila Z < 1,81 maka perusahaan mengalami masalah keuangan yang serius (bangkrut).

2.7 Rasio Springate
Menurut Adriana (2012), metode Springate ditemukan oleh Gordon L.V Springate pada tahun 1978. Springate menemukan terdapat 4 dari 19 rasio-rasio keuangan yang paling berkontribusi terhadap prediksi kebangkrutan perusahaan. Keempat rasio keuangan tersebut dikombinasikan dalam suatu formula yang bernama metode Springate. selanjutnya Springate juga menentukan batasan (standar) berupa nilai 0,862 untuk memprediksikan perusahaan,berpotensi bangkrut atau berpotensi sebagai perusahaan yang sehat (tidak bangkrut). Metode Springate dirumuskan dalam suatu formula sebagai berikut:
S = 1.03A + 3.07B + 0.66C + 0.4D
Keterangan:
A= modal kerja / total aset
B= laba sebelum bunga dan pajak / total aset
C= laba sebelum pajak / total liabilitas lancar
D= penjualan / total aset
Dengan kriteria penilaian apabila nilai S < 0,862 maka menunjukkan indikasi perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutan yang serius (bangkrut), apabila nilai 0,862 < S < 1,062 maka menunjukkan bahwa pihak manajemen harus hati-hati dalam mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (daerah rawan), apabila nilai S > 1,062 maka menunjukkan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat dan tidak mempunyai permasalahan dengan keuangan (tidak bangkrut).

2.8 Pengertian Modal Kerja
Menurut Kasmir (2013, h.250-251), Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek,seperti kas, bank, surat-surat berharga, piutang, sediaan, dan aktiva lancar lainnya. Pengertian modal kerja secara mendalam terkandung dalam konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Konsep kuantitatif
Modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep kualitatif
Konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut dengan modal kerja bersih atau (net working capital).
3. Konsep fungsional
Menekankan fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan.

III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah pendekatan penelitian komparatif yang membandingkan antara metode Altman Z-score atau metode Springate yang lebih tepat untuk memprediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk tahun 2009-2012. 3.2 Objek dan Subjek Penelitian Subjek penelitian yang digunakan adalah PT.Bakrie Telecom Tbk. Dengan objek laporan keuangan PT.Bakrie Telecom Tbk. 3.3 Jenis Data
Menurut cara memperolehnya, penelitian ini menggunakan jenis data Sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah laporan neraca dan laporan laba rugi PT.Bakrie Telecom Tbk yang diambil dari BEI tahun 2009-2012.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan mencatat dan menelusuri data perusahaan yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan neraca dan laba rugi pada tahun 2009-2012.
3.5 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif yang menghasilkan suatu pernyataan yang diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

IV HASIL PENELITIAN
4.1 Penerapan Metode Altman Z-score pada Perusahaan
Berikut merupakan hasil prediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan menggunakan metode Altman Z-score :
Tabel 4.1 Z-Score pada PT.Bakrie Telecom Tbk
Tahun 2009-2012
Periode
Z-score
Potensi Kebangkrutan
Tahun
Triwulan
2009
I
0,1804
Bangkrut
II
0,2710
Daerah rawan
III
0,3479
Tidak bangkrut
IV
0,3721
Tidak bangkrut
2010
I
0,0455
Bangkrut
II
0,2254
Daerah rawan
III
0,3411
Tidak bangkrut
IV
0,3706
Tidak bangkrut
2011
I
0,2042
Daerah rawan
II
0,1928
Daerah rawan
III
0,0689
Bangkrut
IV
0,0004
Bangkrut
2012
I
(0,2791)
Bangkrut
II
(0,3398)
Bangkrut
III
(0,3125)
Bangkrut
IV
(0,8017)
Bangkrut
Sumber : Penulis (Diolah, 2013)

konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Konsep kuantitatif
Modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep kualitatif
Konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut dengan modal kerja bersih atau (net working capital).
3. Konsep fungsional
Menekankan fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan.
III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah pendekatan penelitian komparatif yang membandingkan antara metode Altman Z-score atau metode Springate yang lebih tepat untuk memprediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk tahun 2009-2012. 3.2 Objek dan Subjek Penelitian Subjek penelitian yang digunakan adalah PT.Bakrie Telecom Tbk. Dengan objek laporan keuangan PT.Bakrie Telecom Tbk. 3.3 Jenis Data
Menurut cara memperolehnya, penelitian ini menggunakan jenis data Sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah laporan neraca dan laporan laba rugi PT.Bakrie Telecom Tbk yang diambil dari BEI tahun 2009-2012.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan mencatat dan menelusuri data perusahaan yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan neraca dan laba rugi pada tahun 2009-2012.
3.5 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif yang menghasilkan suatu pernyataan yang diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
IV HASIL PENELITIAN
4.1 Penerapan Metode Altman Z-score pada Perusahaan
Berikut merupakan hasil prediksi kebangkrutan pada PT.Bakrie Telecom Tbk dengan menggunakan metode Altman Z-score :
Tabel 4.1 Z-Score pada PT.Bakrie Telecom Tbk
Tahun 2009-2012
Periode
Z-score
Potensi Kebangkrutan
Tahun
Triwulan
2009
I
0,1804
Bangkrut
II
0,2710
Daerah rawan
III
0,3479
Tidak bangkrut
IV
0,3721
Tidak bangkrut
2010
I
0,0455
Bangkrut
II
0,2254
Daerah rawan
III
0,3411
Tidak bangkrut
IV
0,3706
Tidak bangkrut
2011
I
0,2042
Daerah rawan
II
0,1928
Daerah rawan
III
0,0689
Bangkrut
IV
0,0004
Bangkrut
2012
I
(0,2791)
Bangkrut
II
(0,3398)
Bangkrut
III
(0,3125)
Bangkrut
IV
(0,8017)
Bangkrut
Sumber : Penulis (Diolah, 2013)

Referensi Jurnal

Published Juni 7, 2015 by farahisna

ANALISIS KOMPARATIF DALAM MEMPREDIKSI KEBANGKRUTAN PADA PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK.

 

Lili Syafitri, S.E., Ak., M.si., Trisnadi Wijaya S.E., S.Kom., M.Si.

STIE MDP, Jl. Rajawali No 14, Palembang 30113, no telp. 0711-376400

Jurusan Manajemen Keuangan, STIE MDP, Palembang

e-mail: lucyana_ningrum@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi kebangkrutan menggunakan model Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk periode 2009-2013. Populasi pada penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mulai dari tahun pendirian sampai sekarang. Sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu laporan keuangan tahunan periode 2009-2013. Pengujian hipotesis menggunakan uji beda One Way ANOVA dan perhitungan tingkat akurasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil analisis antara kelima model analisis kebangkrutan yang digunakan pada penelitian ini. Tingkat akurasi untuk model Altman Z-score adalah 0% sedangkan model Springate sebesar 80%. Namun tingkat akurasi untuk model Zmijewski, Foster dan Grover adalah sebesar 100%. Diantara kelima model analisis kebangkrutan tersebut yang memiliki tingkat akurasi paling tinggi adalah Zmijewski, Foster dan Grover.

Kata kunci : Analisis kebangkrutan, Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover.

Abstract

This study aims to determine the bankruptcy prediction model Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster and Grover at PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. period 2009-2013. The population in this study is the annual report statements PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. ranging from the establishment until now. The sample in this study using purposive sampling method is the annual report statement of 2009-2013. Hypothesis testing using different test One Way ANOVA and calculation accuracy rate. The results showed that there are differences between the analytical results fifth bankruptcy analysis models used in this study. The level of accuracy for the Altman Z-score model is 0%, while the Springate model is 80%. However, the accuracy of the model Zmijewski, Foster and Grover is at 100%. Among the five models of the bankruptcy analysis which has the highest level of the accuracy is Zmijewski, Foster and Grover.

Keywords : bankruptcy analysis, Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster and Grover.

  1. PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

 

Pada dasarnya tujuan didirikannya suatu perusahaan adalah untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan dan kemakmuran pemilik perusahaan. Maka dari itu, pihak manajemen harus dapat menghasilkan keuntungan yang optimal dan pengendalian yang seksama terhadap kegiatan operasional, terutama yang berkaitan dengan keuangan perusahaan.

Analisis laporan keuangan sangat dibutuhkan agar dapat memahami informasi laporan keuangan tersebut yang dimana nantinya akan bermanfaat untuk pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. Analisis laporan keuangan menekan kan hanya pada satu aspek keuangan saja. Hal itu menjadi kelemahan dari analisis laporan keuangan maka dari itu memerlukan alat analisis lainnya untuk menggabungkan berbagai aspek keuangan tersebut. Alat analisis tersebut adalah analisis kebangkrutan.

Kebangkrutan tidak akan terjadi jika tanpa adanya penyebab kebangkrutan itu sendiri. Berdasarkan penelitian Gamayuni (2011) penyebab kebangkrutan dapat berasal dari faktor internal dan eksternal perusahaan. Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan tentunya ada beberapa pihak yang akan dirugikan yaitu pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan seperti investor dan kreditur (Adriana, dkk, 2012). Untuk meminimalisir resiko kebangkrutan, diperlukan suatu alat atau model prediksi yang dapat digunakan untuk memprediksi ada atau tidaknya potensi kebangkrutan perusahaan.

beberapa penelitian menyimpulkan hal yang berbeda dimana prekditor yang terbaik diantara ketiga model prediktor yang dianalisa antara lain model Altman Z-score, model Zmijewski dan model Springate. Penelitian Imanzadeh, dkk. (2011) menyatakan bahwa “model Springate lebih konservatif dibandingkan model Zmijewski”. Sedangkan penelitian yang dilakukan Fatmawati (2012) menyimpulkan bahwa “model Zmijewski merupakan prediksi yang lebih akurat dibandingkan model Altman Z-score dan model Springate”. Dengan adanya perbedaan yang muncul dari setiap hasil penelitian diatas, maka penelitian yang akan dilakukan kali ini mengkaji tentang perbedaan prediksi kebangkrutan dengan ketiga model prediksi yang sering digunakan yaitu model Altman Z-score, model Springate dan model Zmijewski dengan menambahkan model Foster, dan model Grover.

pada penelitian ini, penulis menganalisis perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang consumer goods. Sebagian besar masyarakat Indonesia berpendapat bahwa perusahaan besar PT. Indofood Sukses Makmur Tbk tidak akan mengalami kebangkrutan atau kecil kemungkinan bahwa perusahaan besar tersebut akan mengalami kebangkrutan. Namun setiap perusahaan mempunyai resiko kebangkrutan, hanya saja tingkat resikonya yang berbeda-beda.

Berikut merupakan total utang yang dimiliki dan laba yang dihasilkan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk selama periode 2009-2013:

Tabel 1.1

Total Laba dan Total Utang PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Periode 2009-2013

1

Sumber: http://www.idx.co.id

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa laba bersih yang diperoleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir dari periode 2011 sampai 2013. Sedangkan total utang PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mengalami peningkatan dari tahun 2011 sampai 2013. Ramadhani dan Lukviarman (2009) serta Ghosh (2013) berpendapat bahwa “kebangkrutan perusahaan ditandai dengan adanya penurunan kondisi keuangan perusahaan”. Berdasarkan pemikiran-pemikiran dan data-data tersebut maka penelitian kali ini berjudul “ANALISIS KOMPARATIF DALAM MEMPREDIKSI KEBANGKRUTAN (MODEL ALTMAN Z-SCORE, SPRINGATE, ZMIJEWSKI, GROVER DAN FOSTER) PADA PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK PERIODE 2009-2013”.

1.2. Rumusan Masalah

Berikut adalah rumusan masalah pada penelitian ini:

  1. Apakah terdapat perbedaan prediksi analisis kebangkrutan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk periode 2009-2013 dengan menggunakan model Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover ?
  2. Manakah model analisis kebangkrutan yang paling akurat dalam memprediksi kebangkrutan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk periode 2009-2013 dengan menggunakan model Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover ?

1.3. Ruang Lingkup Penelitian

Analisis kebangkrutan dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda awal kebangkrutan suatu perusahaan. Analisis kebangkrutan yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan lima model yaitu model Altmann Z-score, Springate, Zmijewski, Grover dan Foster. Tanda-tanda kebangkrutan dalam hal ini akan dilihat dengan menggunakan data-data dari laporan keuangan. Periode data laporan keuangan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk yang akan digunakan adalah mulai dari 2009 sampai dengan tahun terakhir yaitu 2013.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil analisis kebangkrutan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk periode 2009-2013 dengan menggunakan kelima model yaitu model Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover.

1.5. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat secara teoritis
  2. Bagi pengembangan ilmu, penelitian ini merupakan media untuk belajar memecahkan suatu masalah secara ilmiah dan juga ilmu yang telah diperoleh semasa kuliah yaitu ilmu manajemen khususnya mata kuliah Teori Manajemen Keuangan.
  3. Sebagai masukan empiris untuk pengembangan ilmu manajemen khususnya kajian Manajemen Keuangan yang berkaitan dengan Analisis Kebangkrutan.
  4. Bagi civitas akademik, penelitian ini dapat menambah sumbangan informasi pemikiran dan kajian untuk penelitian lebih lanjut.
  5. Manfaat Secara praktis
  6. Bagi manajemen, penelitian ini dapat digunakan dan dijadikan bahan dasar bagi manajemen dalam mengambil langakah atau keputusan guna melakukan persiapan dan perbaikan untuk meminimalisir resiko bangkrut atau demi kemajuan perusahaan tersebut serta memberikan gambaran dan harapan yang mantap terhadap nilai masa depan perusahaan tersebut.
  7. Bagi penulis, penelitian ini dimaksudkan sebagai pendalaman ilmu yang telah peneliti dapatkan di bangku kuliah sehingga dapat menginterpretasikan ke dalam kasus-kasus nyata yang ada.
  8. Bagi peneliti selanjutnya, semoga bisa bermanfaat dalam menambah wawasan untuk pengembangan penelitian lebih lenjut tentang analisis kebangkrutan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.

 

1.6 Tinjauan Pustaka

1.6.1 Landasan Teori

1.6.1.1 Kebangkrutan

Kebangkrutan adalah suatu kondisi disaat perusahaan mengalami ketidakcukupan dana untuk menjalankan usahanya.

Emiten atau perusahaan publik yang gagal atau tidak mampu menghindari kegagalan membayar kewajibannya terhadap pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi, maka emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan mengenai pinjaman termasuk jumlah pokok dan bunga, jangka waktu pinjaman, nama pemberi pinjaman, penggunaan pinjaman dan alasan kegagalan atau ketidakmampuan menghindari kegagalan kepada Bapepam dan Bursa Efek di mana efek emiten atau perusahaan publik tecatat secepat mungkin, paling lambat akhir hari kedua sejak emiten atau perusahaan publik mengalami kegagalan atau mengetahui ketidakmampuan menghindari kegagalan di maksud” (Br Ferdinand D. Saragih, 2005, h.14).

 

1.6.1.2 Model-Model Analisis Kebangkrutan

  1. Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score

Setelah dipelopori Beaver, kemudian Edward Altman juga melakukan penelitian tentang kebangkrutan. Altman melakukan apa yang Beaver sarankan di akhir tulisannya, yaitu melakukan analisis multivariate. Model yang dikemukakan Altman dikemudian hari menjadi model yang paling populer untuk melakukan prediksi kebangkrutan. Model tersebut dikenal dengan nama Z-score.

Penelitian Altman pada awalnya mengumpulkan 22 rasio perusahaan yang mungkin bisa berguna untuk memprediksi kebangkrutan. Dari 22 rasio tersebut, dilakukan pengujian-pengujian untuk memilih rasio-rasio mana yang akan digunakan dalam membuat model. Hasil pengujian rasio memilih lima rasio yang dianggap terbaik untuk dijadikan variabel dalam model. Rasio-rasio yang terpilih tersebut adalah:

  1. Working capital/total assets
  2. Retained earnings/total assets
  3. EBIT/total assets
  4. Market value of equity/book value of debt
  5. Sales/total assets

 

Standar pengukuran model Altman Z-score adalah apabila Z < 1,81 maka perusahaan diprediksi “Bangkrut”. jika 1,81 < Z < 2,99 maka perusahaan diprediksi berada dalam “Grey Area” atau “Rawan Bangkrut”. Sedangkan jika Z > 2,99 maka perusahaan diprediksi “Tidak Bangkrut”.

 

  1. Analisis Kebangkrutan Model Springate

Springate membuat model prediksi kebangkrutan pada tahun 1978. Dalam pembuatannya, Springate menggunakan metode yang sama dengan Altman, yaitu Multiple Discriminant Analysis (MDA). Seperti Beaver dan Altman, pada awalnya Springate mengumpulkan rasio-rasio keuangan populer yang bisa dipakai untuk memprediksi kebangkrutan. Jumlah rasio awalnya yaitu 19 rasio.

Setelah melalui uji yang sama dengan yang dilakukan Altman, Springate menggunakan 4 rasio yang dipercaya bisa membedakan antara perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan yang tidak mengalami kebangkrutan. Keempat rasio tersebut adalah :

  1. Working capital/total assets
  2. EBIT/total assets
  3. Net profit before taxes / current liability
  4. Sales/total assets

 

Jika memiliki skor kurang dari 0,862 maka perusahaan diklasifikasikan perusahaan bangkrut dan sebaliknya.

  1. Analisis Kebangkrutan Model Zmijewski

Perluasan studi dalam prediksi kebangkrutan dilakukan oleh Zmijewski menambah validitas rasio keuangan sebagai alat deteksi kegagalan keuangan perusahaan. indikator F-test terhadap rasio – rasio kelompok, Rate of Return, liquidity, leverage, turnover, fixed payment coverage, trends, firm size, dan stock return volatility, menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat.

Dengan kriteria penilaian semakin besar nilai X maka semakin besar kemungkinan / probabilitas perusahaan tersebut bangkrut dan jika bernilai negatif maka perusahaan tersebut tidak berpotensi bangkrut.

  1. Analisis Kebangkrutan Model Foster

George Foster melakukan penelitian untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan kereta api di Amerika Serikat periode 1970-1971. Ia menggunakan unnivariate models dengan menggunakan dua variabel rasio secara terpisah, yaitu Tranportation Expense to Operating Revenue Ratio (TE/OR Ratio) dan Time Interest Earned Ratio (TIE Ratio).

Dalam hal ini Foster mempergunakan “Cut off point” Z=0,640, jadi perusahaan yang mempunyai Z < 0,640 termasuk dalam kelompok perusahaan yang bangkrut, sedangkan jika Z > 0,640 termasuk dalam kelompok perusahaan yang tidak bangkrut. Studi ini dinilai berhasil karena dari 10 perusahaan hanya terdapat 1 perusahaan yang salah dalam pengelompokan.

  1. Analisis Kebangkrutan Model Grover

Model Grover merupakan model yang diciptakan dengan melakukan pendesainan dan penilaian ulang terhadap model Altman Z-Score. Jeffrey S. Grover menggunakan sampel sesuai dengan model Altman Z-score pada tahun 1968, dengan menambahkan tiga belas rasio keuangan baru.

Model Grover mengkategorikan perusahaan dalam keadaan bangkrut dengan skor kurang atau sama dengan -0,02 (Z ≤ -0,02). Sedangkan nilai untukperusahaan yang dikategorikan dalam keadaan tidak bangkrut adalah lebih atausama dengan 0,01 (Z ≥ 0,01).

1.6.2 Penelitian Sebelumnya

Berikut adalah tabel penelitian terdahulu yang membandingkan ketepatan antar model prediksi financial distress:

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

2

1.6.3 Kerangka Pemikiran

Berikut adalah kerangka pemikiran dari penelitian ini yang menjelaskan bahwa penelitian ini membandingkan kelima model analisis kebangkrutan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk:

3

  1. METODE PENELITIAN

2.1 Pendekatan penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu situasi.

2.2 Objek/Subjek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan periode 2009-2013. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk dijadikan sebagai subjek penelitian ini karena perusahaan tersebut mempunyai image baik dimata masyarakat Indonesia yang mana PT. Indofood Sukses Makmur Tbk dinilai sebagai perusahaan yang sehat dan memiliki kemungkinan yang kecil untuk dinyatakan bangkrut.

 

2.3 Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Adapun populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mulai dari berdirinya perusahaan pada tahun 1990 sampai periode sekarang tahun 2013. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling. Sampel pada penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Indofood sukses Makmur Tbk periode 2009-2013.

2.4 Jenis data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dengan mempelajari literatur atau dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Penelitian akan dilakukan dengan menjadikan PT. Indofood Sukses Makmur sebagai perusahaan yang diteliti pada periode 2009-2013 dengan mengakses website http://www.idx.co.id.

2.5 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Dokumentasi. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang bersumber pada benda-benda tertulis. Adapun metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah dengan mengambil data laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur dari internet.

2.6 Definisi Operasional

Kelima model analisis kebangkrutan diatas memiliki perhitungan yang berbeda dengan penggunaan rasio yang berbeda pula, berikut perhitungan setiap model analisis kebangkrutan beserta rasio-rasio keuangan yang digunakan.

2.6.1 Analisis Kebangkrutan Model Altman Z-score

4

 

Dimana kelima rasio tersebut didapat dengan perhitungan sebagai berikut:

5

2.6.2 Analisis Kebangkrutan Model Altman Springate

6

 

Rasio keuangan yang dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Springate yaitu:

7

2.6.3 Analisis Kebangkrutan Model Altman Zmijewski

8

 

Rasio keuangan yang dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Zmijewski yaitu:

9

2.6.4 Analisis Kebangkrutan Model Altman Foster

Rasio keuangan yang dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Foster yaitu:

10

2.6.5 Analisis Kebangkrutan Model Altman Grover

Jeffrey S. Grover (2001) menghasilkan fungsi sebagai berikut:

12

Dimana :

X1 = Working capital/Total assets

X2 = Earnings before interest and taxes/Total assets

ROA = net income/total assets

2.7 Teknik Analisis Data

Tahapan-tahapan yang dilalui dalam penelitian ini yaitu:

  1. Mengumpulkan data berupa laporan keuangan PT. Indofood Sukses Tbk. Makmur tahun 2009-2013.
  2. Penghitungan data-data laporan keuangan dengan menggunakan setiap model yaitu model analisis kebangkrutan Altman Z-score, Springate, Zmijewski, Foster dan Grover. Dari setiap perhitungan tersebut, ditentukan prediksi model terhadap perusahaan (apakah akan mengalami distress atau tidak).
  3. Input hasil perhitungan setiap model analisis kebangkrutan ke dalam aplikasi SPSS untuk melakukan pengujian hipotesis.
  4. Melakukan pengujian hipotesis (uji beda) dengan menggunakan aplikasi SPSS, ada beberapa uji yang dilakukan yaitu:

– Uji Normalitas

– Uji Homogenitas

– Uji One Way ANOVA

  1. Melakukan perhitungan tingkat akurasi pada setiap model kebangkrutan untuk menilai model kebangkrutan mana yang merupakan prediktor paling baik diantara kelima model kebangkrutan tersebut.

Perbandingan antara prediksi dan kategori sampel dilakukan pada seluruh sampel yang ada. Setelah semua sampel selesai dihitung, maka diperoleh hasil rekap prediksi yang benar dan yang salah. Dari rekap prediksi tersebut dapat diketahui akurasi tiap-tiap model. Tingkat akurasi menunjukkan berapa persen model memprediksi dengan benar dari keseluruhan sampel yang ada. Tingkat akurasi tiap model dihitung dengan cara sebagai berikut:

13

 

HAKEKAT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Published April 30, 2015 by farahisna

Konsep Dasar

  1. Sistem

Sistem adalah suatu kegiatan yang telah ditentukan caranya dan biasanya dilakukan berulang-ulang. Dalam konteks SPM, menurut Suadi (1995) maka sistem adalah sekelompok komponen yang masing-masing saling menunjang-saling berhubungan maupun yang tidak- yang keseluruhannya merupakan sebuah kesatuan.

  1. Pengendalian

Menurut Hansen dan Mowen (1995) pengendalian adalah proses penetapan standar, dengan menerima umpan balik berupa kinerja sesungguhnya, dan mengambil tindakan yang diperlukan jika kinerja sesungguhnya berbeda secara signifikan dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

  1. Manajemen

Manajemen adalah seni mencapai tujuan melalui tangan orang lain. Pengertian manajemen yang lain adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian pekerjaan anggota organisasi, serta pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan bekerja bersama.

 

Pengertian Sistem Pengendalian Manajemen

Menurut Suadi, Sistem pengendalian manajemen adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa sub sistem yang saling berkaitan, yaitu: pemrograman, penganggaran, akuntansi, pelaporan, dan pertanggungjawaban untuk membantu manajemen mempengaruhi orang lain dalam sebuah perusahaan, agar mau mencapai tujuan perusahaan melalui strategi tertentu secara efektif dan efisien. Menurut Anthony dan Reece, sistem pengendalian manajemen adalah sistem pengendalian manajemen memiliki fungsi pengendalian terhadap aktivitas-aktivitas dalam suatu organisasi yang diupayakan agar sesuai dengan strategi badan usaha untuk mencapai tujuannya.

 

 

Tujuan Perancangan Sistem Pengendalian Manejemen

 

  1. Diperolehnya keterandalan dan integritas informasi

Di era globalisasi ini, sistem informasi menjadi begitu penting bagi organisasi dalam rangka mensikapi perubahan yang serba cepat atas perubahan kondisi dan lingkungan yang ada dan meningkatnya kecanggihan sarana teknologi informasi. Umumnya, sistem informasi dibagi ke dalam 2 (dua) aspek, yakni:

1)      informasi akuntansi finansial yang menghasilkan laporan keuangan organisasi dan berbagai laporan lainnya seperti penggunaan anggaran atau budget.

2)      Sistem informasi kegiatan yang menghimpun informasi terkait dengan berbagai aspek kegiatan yang menghasilkan laporan tingkat keberhasilan kinerja. Tujuan dari pengendalian manajemen adalah untuk mempertahankan keterandalan dan integritas sistem informasi yang penting dalam pengambilan keputusan.

  1. Kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan ketentuan yang berlaku dapat dicapai melalui sistem pengendalian manajemen. Kegagalan ketaatan pada kebijakan dan ketentuan yang berlaku dapat membahayakan usaha koordinasi yang dirancang dalam suatu sistem pengendalian.

  1. Melindungi aset organisasi

Pada umumnya pengendalian dirancang dan diimplementasikan untuk melindungi aset organisasi. Contoh pengendalian tersebut adalah dikuncinya pintu gudang penyimpanan barang, direkrutnya satpam, digunakannya password komputer, dibangunnya pagar, ditempatkannya aset berharga pada tempat yang tidak mudah diakses orang yang tidak berhak/berwenang.

  1. Pencapaian kegiatan yang ekonomis dan efisien

Realita bahwa sumber daya bersifat terbatas mendorong organisasi menerapkan prinsip ekonomis dan efisiensi. Prinsip yang diterapkan bagi manajemen organisasi adalah memperoleh keluaran atau hasil yang maksimal dengan pengeluaran tertentu atau mencapai hasil tertentu dengan biaya yang minimal. Standar operasi seharusnya memberikan kriteria pengukuran untuk menilai tingkat keekonomisan dan efisiensi. Dalam dunia bisnis, kriteria penilaian kehematan dan efisiensi tercermin dalam laporan keuangannya. Namun demikian, bagi organisasi nirlaba, termasuk organisasi pemerintah, kriteria penilaian dituangkan dalam bentuk indikator keberhasilan kinerja.

 

Empat elemen Sistem Pengendalian

Suatu organisasi harus dikendalikan yaitu harus ada perangkat – perangkap pada tempatnya untuk memastikan bahwa tujuan strategisnya dapat tercapai. Setiap sistem pengendalian sedikitnya memiliki empat elemen:

  1. Pelacak (detector) atau sensor-sebuah perangkat yang mengukur apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses yang sedang dikendalikan.
  2. Penaksir (assessor) uatu perangkat yang menentukan signifikansi dari peristiwa aktual dengan membandingkannya dengan beberapa standar atau ekspektasi dari apa yang seharusnya terjadi.
  3. Effector-suatu perangkat (yang sering disebut “feedback”) yang mengubah perilaku jika assessor mengindikasikan kebutuhan yang perlu dipenuhi.
  4. Jaringan komunikasi-perangkat yang meneruskan informasi antara detector dan assessor dan antara assessor dan effector.

 

Batas-Batas Pengendalian Manejemen

  1. Pengendalian Manajemen

Pengendalian manajemen merupakan sebuah proses di mana para manajer mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mengimplementasikan strategi organisasi. Beberapa aspek dari proses ini dijelaskan sebagai berikut :

1)      Kegiatan pengendalian manajemen

Pengendalian manajemen terdiri atas bermacam kegiatan, di antaranya:

  1. Merencanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh organisasi
  2. Mengkoordinasikan kegiatan dari beberapa bagian organisasi
  3. Mengkomunikasikan informasi
  4. Mengevaluasi informasi
  5. Memutuskan tindakan apa yang seharusnya diambil jika perlu
  6. Mempengaruhi orang-orang untuk mengubah perilaku mereka

2)      Keselarasan Tujuan (Goal Congruence)

Meskipun sistematis, proses pengendalian manajemen tidak bersifat mekanis; lebih dari itu, proses ini meliputi interaksi antar­individu, di mana tidak dapat digambarkan dalam cara mekanis. Para manajer memiliki tujuan pribadi sebagaimana halnya dengan tujuan organisasi. Masalah pengendalian yang terutama adalah bagaimana mempenga-ruhi mereka dalam bertindak demi pencapaian tujuan pribadi mereka sedemikian rupa sekaligus dapat membantu pencapaian tujuan organisasi. Keselarasan tujuan berarti, sejauh hal tersebut dimungkinkan, tujuan seorang anggota organisasi seharusnya konsisten dengan tujuan organisasi itu sendiri. Sistem pengendalian manajemen seharusnya dirancang dan dioperasikan dengan prinsip keselarasan tujuan dalam pikiran setiap pribadi

3)      Perangkat Penerapan Strategi

Sistem pengendalian manajemen mem-bantu para manajer untuk menjalankan organisasi ke arah tujuan stratejiknya. Sehingga, pengendalian manajemen terutama memfokuskan pada pelaksanaan strategi. Pengendalian manajemen merupakan satu-satunya perangkat manajer yang digunakan dalam mengimplementasikan strategi yang diinginkan.

4)      Tekanan Finansial dan Nonfinansial

Sistem pengendalian manajemen meliputi ukuran kinerja jinansial dan nonfinansial. Oimensi finansial memfokuskan pada moneter “yang menekankan” pada-net income, return on equity, dan lainnya; tetapi sebenarnya seluruh subunit organisasi memiliki tujuan nonfinansial-mutu produk, pangsa pasar, kepuasan pelanggan, pengantaran tepat waktu, dan motivasi kerja karyawan.

5)      Bantuan dalam Pengembangan Strategi Baru

Peranan utama pengendalian manajemen adalah untuk memastikan pelaksanaan strategi yang telah dipilih. Dalam industri yang tunduk pada perubahan lingkungan yang cepat, bagaimanapun, manajemen mengendalikan informasi, terutama yang bersifat nonfinansial, dapat juga menyediakan dasar bagi pertimbangan strategi baru. Fungsi ini diartikan sebagai pengendalian interaktif. Pengendalian interaktif mengundang perhatian manajemen untuk pengembangan-keduanya negatif (misalnya kehilangan pangsa pasar; dan keluhan pelanggan) dan positif (misalnya pembukaan pasar baru sebagai hasil penghapusan peraturan pemerintah)-yang menunjukkan perlu adanya inisiatif strategi yang baru. Pengendalian interaktif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pengendalian manajemen.

  1. Perumusan Strategi

Perumusan  strategi merupakan proses memutuskan tujuan organisasi dan strategi untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Tujuan tidak memiliki jangka waktu, tujuan akan tetap ada hingga tujuan tersebut diubah, dan hal itu jarang terjadi. Bagi beberapa perusahaan, mencapai tingkat ROI (return on investment) yang memuaskan merupakan tujuan penting, tetapi bagi perusahaan lainya memperluas pangsa pasar merupakan hal yang sama pentingnya.

Kebutuhan untuk memformulasikan strategi biasanya timbul dalam merespons ancaman yang diterima (misalnya, serangan dari pesaing, pergeseran cita rasa konsumen, peraturan pemerintah yang baru) atau adanya kesempatan (misalnya, inovasi teknologi, persepsi yang baru dari perilaku pelanggan, atau pengembangan aplikasi baru dari produk yang sudah ada). Seorang CEO yang baril, terutama yang berasal dari luar perusahaan, biasanya merasakan adanya ancaman dan kesempatan berbeda dari yang dirasakan pendahulunya. Sehingga, perubahan dalam strategi sering terjadi ketika ada pergantian CEO yang baru.

Perbedaan antara Formulasi Strategi dari Pengendalian Manajemen. Perumusan  strategi adalah proses pengambilan keputusan strategi baru sedangkan pengendalian manajemen adalah proses pengimplementasian strategi tersebut. Perbedaan yang terpenting antara formulasi strategi dan pengendalian manajemen adalah formulasi strategi pada dasarnya tidak tersistematis. Ancaman, kesempatan, dan gagasan baru tidak terjadi pada jangka waktu yang tetap: sehingga keputusan stratejik mungkin dibuat pada saat kapan pun. Lebih jauh lagi, analisis bagi usulan strategi berbeda dengan sifat strategi. Analisis strategi meliputi penilaian, dan nilai yang digunakan dalam proses biasanya estimasi secara kasar. Kebalikannya, proses pengendalian manajemen meliputi serangkaian langkah yang terjadi dalam urutan yang dapat diprediksikan menurut banyak sedikitnya waktu yang tersedia, dan dengan estimasi yang dapat diandalkan.

  1. Pengendalian Tugas

Pengendalian tugas adalah proses untuk memastikan bahwa tugas yang spesifik dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pengendalian tugas merupakan transaction-oriented-yaitu, melibatkan kinerja tugas individual menurut aturan yang dibuat dalam proses pengendalian manajemen. Pengendalian tugas selalu terdiri dari pengawasan agar aturan-aturan ini diikuti; sebuah fungsi yang dalam beberapa kasus tidak selalu mem-butuhkan kehadiran sentuhan manusia. Banyak kegiatan pengendalian tugas yang bersifat scientific; sehingga, keputusan optimal atau tindakan yang tepat perlu diambil untuk membawa kembali kondisi di luar kendali kepada keadaan yang diinginkan, yang diprediksi-kan berada dalam batasan yang dapat diterima. Sebagai contoh, aturan jumlah pesanan yang ekonomis menjelaskan jumlah dan waktu pesanan pembelian. Pengendalian tugas adalah fokus dari ilmu manajemen dan teknik riset operasi.

Perbedaan antara Pengendalian Tugas dan Pengendalian Manajemen. Perbedaan paling penting antara pengendalian tugas dan pengendalian mana-jemen adalah banyak sistem pengendalian tugas yang bersifat scientific. Secara definisi, pengendalian manajemen meliputi perilaku para manajer, dan hal ini tidak dapat dinyatokon melalui persamaan-persamaan. Kesalahan serius yang mungkin dibuat adalah jika prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh ilmuwan manajemen bagi situasi pengendalian tugas juga diterapkan pada situasi pengendalian manajemen. Dalam pengendalian manajemen, para manajer berinteraksi dengan manajer lainnya; dalam pengendalian tugas, manusia tidak terIibat secara kese-luruhan (sebagaimana dalam beberapa proses produksi yang terotomatisasi), atau interaksi antara seorang manajer dan yang bukan manajer.

 

 

  1. Dampak Internet terhadap Pengendalian Manajemen

Pengaruh internet terhadap dunia bisnis telah menjadi monumental. Kemudian apa yang merupakan pengaruh internet atas pengendalian manajemen dalam sebuah organiasai ? Sistem pengendalian manajemen meliputi informasi dan organiasai memerlukan sebuah infrastruktur untuk meproses informasi tersebut. Internet menyediakan infrastrktur tersebut, sehingga membuat pemrosesan informasi menjadi lebih mudah dan lebuh cepat, dengan kesalahan yang lebih sedikit. Pada situs ewb, seorang manager dapat mengumpulkan data dalam jumlah yang amat besar, menyimpan serta menganalisis data tersebut dengan format yang berbda dan mengirimkannya ke setipa orang dalam organisasi. Para manajer juga menggunakan informasi ini untuk mengubah laporannya secara pribadi.

Internet menfasilitasi koordinasi dan pengendalian melalui pemrosesan informasi yang efisien dan efektif, tetapi internet tidak dapat menggantikan proses fundamental yang melibatkan pengedalian manajemen. Hal ini disebabkan karena penerapan strategi melalui pengedalian manajemen secara esensial merupakan sebuah proses sosial, sehingga tidak dapat diotomatisasikan secara penuh. Ketersediaan akses proses secara elektronis ke data base hanya memberikan kontribusi kecil pada penilaian (Judgement) yang diperlukan untuk mendesain dan mengoperasikan suatu system pengendalian yang optimal.

Penilaian tersebut meliputi :

  1. Memahami nilai relatif dari pentingnya keanekaragaman dan terkadang bersaing dalam tujuan yang mendorong individu untuk bertindak (misal prestasi pribadi dibandingkan prestasi bersama, penciptaan nilai bagi pelanggan dan pemegang saham daripada diri sendiri dan sebagainya).
  2. Penyelarasan tujuan dari beragam individu dengan organisasi.
  3. Pengembangan tujuan tertentu melalui unit bisnis, area fungsional dan departemen-departemen yang akan dinilai.
  4. Mengkomunikasikan strategi dan tujuan yang spesifik untuk keseluruhan organiasasi.
  5. Menjelaskan variable kunci yang akan diukur dalam penilaian kontribusi individual terhadap tujuan organisasi.
  6. Mengevaluasi kinerja actual relatif ukuran standar dan pembuatan kesimpulan tentang kinerja manajer.
  7. Menyelenggarakan pertemuan untuk meninjau kinerja yang produkstif.
  8. Mendesain struktur penghargaan yang tepat.
  9. Mempengaruhi individu untuk mengubah perilaku mereka.

Internet menyediakan banyak manfaat utama yang tidak didapat dari telepon, yaitu:

1)       Akses secara mudah dan cepat

Data dapat dikirimkan dari lokasi A ke lokasi B hanya dalam hitungan detik.

2)      Komunikasi multi-target

Internet memiliki jagkauan yang sangat luas, satu situs dapat menjangkau jutaan orang.

3)       Komunikasi berbiaya rendah

Komunikasi yang digunakan antara pegawai dan pelanggan dapat dilakukan dengan biaya yang murah dan bisa bebas pulsa (gratis).

4)      Kemampuan menampilkan citra tertentu

Tidak seperti telepon, situs web membuat konsumen dapat melihat produk yang ditawarkan untk dijual.

5)      Pergeseran kekuatan dan kendali kepada individu

 

Secara ringkas, meskipun internet telah sangat meningkatkan pemrosesan informasi, namun elemen fundamental dari pengendalian manajemen – informasi apa yang dikumpulkan dan bagaimana menggunkannya – pada dasarnya melibatkan perilaku dan oleh karenanya tidak dapat digantikan dengan pendekatan formulasi semata.

 

Menjadi manfaat yang paling drastis dari situs web adalah pelanggan menjadi “raja”. Konsumen memegang kendali dan dapat memnggunakan situs web selama 24 jam penuh pada waktu yang mereka sukai tanpa interupsi atau terlalu dipengaruhi oleh agen penjualan maupun telemarketers.

Dengan manfaat-manfaat tersebut internet secara drastis telah mengubah aturan permainan dalam bisnis ke sektoor individual. Meskipun internet telah dapat menfasilitasi kordinasi dan pengendalian melaluipemrosesan informasi yang efisien dan efektif, internet tidak dapat menggantikan proses fundamental yang melibatkan penegndalian manajemen. Hal ini disebabkan oleh penerapan strategi melalui penegndalian manajemen secara esensial merupakan sebuah proses sosial dan perilaku, sehingga tidak dapat di otomatisasikan secara penuh.

 

  • Ciri – ciri Sistem Pengendalian Manajemen

 

Sistem pengendalian manajemen mempunyai beberapa ciri penting, yaitu :

 

  1. Sistem pengendalian manajemen digunakan untuk mengendaliakan seluruh organisasi, termasuk pengendalian terhadap seluruh sumber daya (resources) yang digunakan, baik manusia, alat-alat dan teknologi, maupun hasil yang diperoleh organisasi, sehingga proses pencapaian tujuan organisasi dapat berjalan lancar.
  2. Pengendalian manajemen bertolak dari strategi dan teknik evaluasi yang berintegrasi dan menyeluruh, serta kurang bersifat perhitungan yang pasti dalam mengevaluasi sesuatu.
  3. Pengendalian manajemen lebih beriorientasi pada manusia, karena pengendalian manajemen lebih ditujukan untuk membantu manager mencapai strategi organisasi dan bukan untuk memperbaiki detail catatan.

 

 

  • Keterbatasan Sistem Pengendalian Manajemen

Beberapa keterbatasan yang dapat diidentifikasikan antara lain:

  1. Kurang matangnya suatu pertimbangan

Efektivitas pengendalian seringkali dibatasi oleh adanya keterbatasan manusia dalam pengambilan keputusan. Suatu keputusan diambil oleh manajemen umumnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang ada pada saat itu, antara lain informasi yang tersedia, keterbatasan waktu, dan beberapa variabel lain baik internal maupun eksternal (lingkungan). Dalam kenyataannya, sering dijumpai bahwa beberapa keputusan yang diambil secara demikian memberikan hasil yang kurang efektif dibandingkan dengan apa yang diharapkan. Keterbatasan ini merupakan keterbatasan alamiah yang dihadapi oleh manajemen.

  1. Kegagalan menterjemahkan perintah

Pengendalian telah didisain dengan sebaik-baiknya, namun kegagalan dapat terjadi yang disebabkan adanya pegawai (staf) yang salah menterjemahkan perintah dari pimpinan. Kesalahan dalam menterjemahkan suatu perintah dapat disebabkan dari ketidaktahuan atau kecerobohan pegawai yang bersangkutan. Terjadinya kegagalan dapat lebih diperparah apabila kegagalan menterjemahkan perintah dilakukan oleh seorang pimpinan.

  1. Pengabaian manajemen

Suatu pengendalian manajemen dapat berjalan efektif apabila semua pihak atau unsur dalam organisasi mulai dari tingkat tertinggi hingga terendah melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya. Meskipun suatu organisasi memiliki pengendalian manajemen yang memadai sekalipun, pengendalian tersebut tidak akan dapat mencapai tujuannya jika staf atau bahkan seorang pimpinan mengabaikan pengendalian. Istilah “pengabaian manajemen” ditujukan pada tindakan manajemen yang mengabaikan pengendalian dengan tujuan untuk kepentingan pribadi atau untuk meningkatkan penyajian kondisi laporan kegiatan dan kinerja organisasi yang bersangkutan.

  1. Adanya Kolusi

Kolusi adalah salah satu ancaman dari pengendalian yang efektif. Pemisahan fungsi telah dilakukan namun jika manusianya melakukan suatu persekongkolan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan tertentu selain organisasi, maka pengendalian yang sebaik apapun  tidak akan dapat mendeteksi atau mencegah terjadinya suatu tindakan yang merugikan organisasi.

 

  • Lingkungan Pengendalian

 

  1. PERILAKU ORGANISASI.

 

Proses pengendalian manajemen mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan organisasi. Beberapa karakteristik organisasi yang mempengaruhi proses tersebut, terutama berkaitan dengan perilaku anggota dalam suatu organisasi. Suatu organisasi mempunyai tujuan dan fungsi pengendalian manajemen adalah mendorong anggota organisasi mencapai tujuan. Disinilah perlunya faktor keselarasan tujuan masing-masing anggota organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Struktur organisasi mempengaruhi bentuk sistem pengendalian manajemen yang akan diterapkan. Perilaku organisasi juga berkaitan dengan motivasi, kemampuan individu itu sendiri dan pemahaman tentang perilaku yang diperlukan dalam  mencapai prestasi yang tinggi.

 

  1. Pusat-pusat Pertanggungjawaban

Terdapat empat jenis pusat pertanggungjawaban yaitu pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi. Adanya pusat tanggung jawab berguna mewujudkan satu atau lebih maksud yang disebut dengan cita-cita.

  1. Pusat biaya (expense center)

Merupakan pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajer dinilai berdasarkan biaya yang telah dikeluarkan. Pada pusat biaya, ukuran kinerja dinilai berdasarkan biaya yang telah digunakan. Contoh pusat biaya pada organisasi sektor publik ialah Departemen Produksi, Dinas Sosial, dan Dinas Pekerjaan Umum.

  1. Pusat Pendapatan (revenue center)

Merupakan pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajer dinilai berdasarkan pendapatan yang dihasilkan. Pusat pendapatn diukur secara moneter, tetapi tidak ada upaya formal yang dilakukan untuk mengaitkan input (yaitu, beban atau biaya) dengan output. Contoh pusat pendapatan adalah Dinas Pendapatan Daerah dan Departemen Pemasaran.

  1. Pusat Laba (Profit Center)

Merupakan pusat pertanggungjawaban yang membandingkan input dengan output dalam satuan moneter. Kinerja manajer dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan. Karena laba merupakan ukuran kinerja yang memungkinkan manajemen senior untuk dapat menggunakan satu indikator yang komprehensif, dibandingkan jika harus menggunakan beberapa indikator (beberapa diantaranya menunjuk ke arah yang berbeda). Contoh: BUMN dan BUMD, obyek pariwisata milik PEMDA, bandara, dan pelabuhan.

  1. Pusat Investasi (investmen center)

Merupakan pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajer dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan dikaitkan dengan investasi yang ditanamkan pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya. Investasi merupakan salah satu hal mendasar yang dibutuhkan oleh perusahaan dan dapat memberikan keuntungan bagi investor. Contoh pusat investasi adalah Departemen Riset dan Pengembangan dan Balitbang.

Tiap-tiap pusat pertanggungjawaban bertugas untuk melaksanakan program atau aktivitas tertentu, dan penggabungan program-program dari tiap-tiap pusat pertanggungjawaban tersebut seharusnya mendukung program pusat pertanggungjawaban pada level yang tinggi, sehingga pada akhirnya tujuan umum organisasi dapat tercapai.

Pusat pertanggungjawaban memiliki peran penting dalam sistem pengendalian manajemen. Melalui pusat pertanggungjawaban tersebut anggaran dibuat untuk disah kan dan dikomunikasikan kepada manajer level menengah dan bawah untuk dilaksanakan.

  • Tipe Pengendalian Manajemen

Tipe pengendalian manajemen dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Pengendalian preventif (preventive control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan perumusan strategi dan perencanaan strategic yang dijabarkan dalam bentuk program-program.
  2. Pengendalian operasional (operational control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan pengawasan pelaksanaan program yang telah ditetapkan melalui alat berupa anggaran. Anggaran digunakan untuk menghubungkan perencanaan dengan pengendalian.
  3. Pengendalian kinerja. Pada tahap ini pengendalian manajemen berupa analisis evaluasi kinerja berdasarkan tolak ukur kinerja yang telah ditetapkan.

 

  • Proses Pengendalian Manajemen

 

Suatu poses pengendalian manajemen melibatkan interaksi antarmanajer dan manajer dengan bawahannya. Proses pengendalian manajemen meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut yaitu :

  1. PERENCANAAN STRATEGI. Perncanaan strategi adalah proses memutuskan program-program utama yang akan dilakukan suatu organisasi dalam rangka implementasi strategi dan menaksir jumlah sumber daya yang akan dialokasikan untuk tiap-tiap program jangka panjang beberapa tahun yang akan datang.
  2. PENYUSUNAN ANGGARAN. Penyusunan anggaran adalah proses pengoperasian rencana dalam bentuk pengkuantifikasian, biasanya dalam unit moneter untuk kurun waktu tertentu

 

.

  1. PELAKSANAAN. Selama tahun anggaran, manajer melakukan program atau bagian dari program yang menjadi tanggungjawabnya. Laporan yang dibuat hendaknya menunjukkan dapat menyediakan informasi tentang anggaran dan realisasinya baik itu informasi untuk mengukur kinerja keuangan maupun nonkeuangan, informasi internal maupun eksternal.
  2. EVALUASI KINERJA. Pestasi kerja bisa dilihat dari efisien atau efektif tidaknya suatu pusat pertanggungjawaban menjalankan tugasnya. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara realisasi anggaran dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

 

  • Hubungan Pengendalian Manajemen

 

  1. HUBUNGAN PENGENDALIAN MANAJEMEN DENGAN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN

Sebagian orang dalam organisasi melakukan perencanaan dan sebagian lagi dalam bidang pengendalian. Kedua hal ini saling terkait. Kebanyakan manajer melakukan pengendalian namun sifat dari pengendalian itu sendiri berbeda dalam penerapannya  untuk penetapan strategi, pengendalian manajemen dan pengendalian tugas. Karena itu, perencanaan dan pengendalian tidak merupakan kegiatan terpisah tapi saling terkait satu sama lainnya.

  1. HUBUNGAN PENGENDALIAN MANAJEMEN DENGAN INTERNAL AUDITING

Pengendalian manajemen adalah aktivitas yang dilakukan oleh manajer, selain itu internal auditing adalah kegiatan staf yang dimaksudkan untuk menjamin keakuratan informasi sesuai dengan aturan kesalahan yang minimum terhadap pelaporan asset dan menjamin pelaksanaan tugas secara efektif dan efisien.

 

Referensi :

http://suaebahnur.blogspot.com/2013/10/ruang-lingkup-dan-kerangka-konspetual.html

http://bintimuchsini.blogspot.com/2009/05/sifat-sistem-pengendalian-manajemen.html

http://mitrausahamuda23.blogspot.com/2014/03/makalah-sistem-pengendalian-manajemen.html?m=1

http://tiasaccountingworld.blogspot.com/2013/09/akuntansi-manajemen-dan-sistem.html